Mengapa saya mendokumentasikan konflik di PANTAU? Ada banyak alasan untuk pertanyaan ini. Alasan pertama dan paling utama adalah: Saya mencintai komunitas ini. Saya sudah mengetahui komunitas ini sejak kuliah dan aktif di pers mahasiswa. Namun saya praktis mulai mengenal orang-orangnya pada pertengahan akhir 2007. Perkenalan itu diawali oleh tulisan saya yang dimuat di website.
Alasan kedua, saya merasa sedang menyaksikan sebuah bagian dari proses sejarah jurnalisme di Indonesia. Nama PANTAU cukup besar di dunia jurnalisme Indonesia. PANTAU membawa warna dengan segala kelemahan dan kelebihannya, dan mungkin kesombongannya akan idealisme dan kebersahajaan para pegiatnya.
Konflik ini adalah bagian dari keping sejarah. Saya mungkin tak terlibat banyak. Saya tak berani berkomentar. Saya hanya orang baru yang harus banyak belajar. Saya hanyalah sang penonton. Maka saya beranikan diri untuk mendokumentasikan konflik ini.
Saya hanya mendokumentasikan surat-surat yang dikirimkan sejumlah orang mengenai konflik ini, dalam milis PANTAU KOMUNITAS. Mungkin, kelak, surat dan ajang debat ini bisa bermanfaat bagi siapapun.
Mengenai nama blog WARS WITHIN. Sengaja saya pinjam dari judul buku Janet Steele, seorang pengampu jurnalisme sastrawi di PANTAU. Buku ini mengenai TEMPO dan konflik di dalamnya. Saya merasa nama blog ini cukup tepat untuk menggambarkan isi blog ini.
Mengenai motto: MENDOKUMENTASIKAN API PERSELISIHAN SEMBARI MENGHARAPKAN AIR PERDAMAIAN, saya pikir sudah jelas. Tak ada api yang tak akan padam oleh air.
Terakhir, saya percaya: Becik ketitik ala ketara. Kebenaran sekecil apapun akan tersingkap jua pada akhirnya. (*)
07 August 2008
Subscribe to:
Comments (Atom)