02 August 2008

Kenapa Pantau Menelan Pil Pahit yang Kedua?



Bung Basilius Triharyanto yang baik,

Terima kasih nama saya Anda sebut kembali di file PANTAU. Sekadar info, saya pernah menerima surat pemecatan sebagai pendiri PANTAU. Jika ada pihak yang paham arti kata pendiri yayasan, apakah sosok pendiri bisa dipecat sepihak?

Kala rapat yang Anda deskripsikan, saya memang emosional, karena kesalahan seakan ditumpahkan kepada batang hidung saya sendiri. Harus ada kambing hitam untuk sebuah kegagalan, dan tumpahan itu kepada saya.

Agar saya tak "kalap" saya menghindar dari rapat, juga bukan tak bertanggung jawab, tetapi membiarkan masalah dingin, untuk kemudian bisa dibicarakan lagi (karena saya menganut pandang hampir semua masalah bisa seharusnya dibahas untuk diselesaikan). Tetapi yang terjadi, saya malah dipecat sebagai pendiri, surat masih saya simpan.

Sekadar informasi, akuntan PANTAU, Arifin Washar, di saat saya menjadi pemimpin perusahaan, karena porto folio dan kejujurunnya teruji, kini terbukti bisa bekerja kembali di Blue Bird (kantor lamanya sebelum PANTAU), bahkan sudah menjadi senior auditor kembali.

Dari Arifin, saya mendapatkan koreksi, bahwa memang ada dana PANTAU untuk pribadi yang saya pakai; dalam bentuk pembelian PDA O2 (yang sudah dikembalikan ke PANTAU, juga pinjaman, yang hingga kini masih saya diamkan, faktornya: Lebih karena menanggung nasib kambing hitam, "penghancuran" karakter saya, plus pemecatan sebagai pendiri Yayasan Pantau).

Jauh di kemudian hari, di sebuah toko buah yang habis terbakar, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kira-kira dua tahun lalu, tidak sengaja saya melihat Andreas. Saya menggendong anak ketiga kami yang masih bayi. Saya sapa Andreas, dan mengatakan, kapan ada waktu untuk kembali bertemu.

Andreas tampak ramah.

Pertemuan selanjutnya belum pernah terjadi.

Saya kiri-kanan memperjuangkan kembali semangat yang, tentu, bukan membawa branding PANTAU (toh sudah dipecat itu?!). Belakangan saya menemukan ceruk, langgam jurnalisme SKETSA (setelah dibaca oleh Amarzan Loebis, TEMPO, ia menjuluki penulisan yang belakangan saya kembangkan bergaya sketsa), sebagaimana rutin saya tulis di www.presstalk.info. Hingga hari ini saya sangat senang menghimbau reporter menulis secara literair, juga mensosialisasikan menulis macam di The New Yorker, sebagaimana sering di-uarkan Andreas.

Dari jauh saya bangga kepada PANTAU, yang sudah merambah Aceh, Ende dan beragam kegiatannya yang terus berjalan.

Saya hanya heran kemudian, pertama, Agus Sopian mundur dan menulis panjang di milis ini. Kedua, kemudian datang lagi urusan Linda Christanty, tentang program Aceh, yang ditutup, dan minta pertanggung-jawaban Andreas.

Saya tak ingin berkomentar apa-apa, karena saya sudah tak paham masalahnya.

Saya hanya ingin mengucapkan salam dari jauh: dari lubuk hati yang paling dalam, saya mencintai kalian semua, terhadap idealisme pers yang kalian perjuangkan - - apalagi kini, seharusnya, di saat citra keterwakilan pers Indonesia, macam yang diterima Presiden di istana adalah PWI? misalnya, dan kita tahu bagaimana kiprah PWI, termasuk indikasi banyak menerima dana APBD, dan banyak langgam lain, yang bisa menjadi diskusi tersendiri.

Tahun lalu saya dipercaya menjadi Ketua Umum Koornas PWI-Reformasi. Hingga kini juga belum bisa berbuat banyak, karena masih harus terfokus "mempertanggung-jawabkan" kata reformasi, dalam tatanan karya.

Secara pribadi, saya sangat percaya, hampir tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan antar sesama manusia di jagad ini. Jika saja, himbauan Bill Kovach, yang juga sering diucapkan oleh Andreas, agar setiap wartawan rendah hati, dapat diterapkan dalam laku sehari-hari, akan lain jadinya.

Dari Amarzan Loebis, yang banyak dianggap kawan-kawan sebagai suhu, saya mendapatkan pemahaman, bahwa tak ada penulis nomor satu, yang ada penulis kelas dua - - bentuk lain idiom kerendah-hatian.

Dalam konteks PANTAU, jika semua insannya menganut paham rendah hati, tidak merasa menang sendiri, yang lain salah, yang benar diri yang membenarkan sendiri, maka seharusnya akan indah dan damai dirasa.

Saya sepemahaman dengan beberapa posting di milis ini, urusan manajemen PANTAU, mbok ya dibuat milis sendiri, kenapa milis komunitas misalnya tidak mendiskusikan tulisan, misalnya, BANTAILAH tulisan saya di: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=131, yang pernah dilaporkan Alvin Lie ke polisi, atau ujilah misalnya tulisan: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=150, literair atau tidak (atau dalam istilah PANTAU sastrawi/naratif atau tidak?)

Milis ini akan lebih bermartabat bila bicara topik-topik menulis, termasuk urusan "bertanding" menulis, dalam artian positif, untuk lebih berbuat bagi dunia jurnalistik Indonesia yang harus berpihak kepada warga, dijauhkan dari kooptasi kepentingan uang dan politik.

Wah, maaf kepanjangan, akibat lama cuma jadi pembaca.

wassalam,
narliswandi piliang/iwan piliang

No comments: