05 August 2008
Menghentikan Posting
Bintang yang baik,
Sudah lama kita tak bicara. Tiba-tiba aku mendengar teriakanmu, kencang sekali. Ada kemarahan. Pertanyaan. Gugatan. Penolakan. Aku tergagap, tak mampu bicara.
Teriakan itu bukan cara kita. Ia hanya menunjukkan kelemahan kita sebagai manusia, yang kadang kehilangan akal sehat, yang alpa merendahkan hati. Dan sadarkah, kita sedang menepuk air di kolam.
Pembekuan PROGRAM PANTAU di Aceh tentu menghenyak perasaan kita. Tapi itu bukan akhir dari segalanya. Jiwa kita sudah lama tinggal di sana . Juga di Papua, Borneo, Ende, Balikpapan ,… sebutkan nama lainnya, tempat Pantau pernah dan akan berbagi program-program untuk memajukan jurnalisme.
Ketika berita itu sampai ke telingamu, tidakkah lebih elok kita mengendapkan pikiran, melongok ke dalam diri kita sendiri. Kau bisa mempertanyakannya langsung secara institusional. Atau kau bisa menunggu pemberitahuan resmi itu datang, langkah-langkah stategis untuk mengatasi masalah ini diambil. Tapi air sudah kadung menerpa wajah kita. Kita sendiri yang basah olehnya.
Mari turun dari geladak kapal. Kapal ini sudah oleng, bisa karam kalau kita tak menambal bolong-bolong itu. Aku yakin kau tak ingin kapal ini terbenam di dasar laut. Aku yakin kau ingin kapal ini, Pantau, bisa berlayar lagi menuju lautan jurnalisme yang bermutu.
Mari kita bicara dari hati ke hati, bertatap muka. Pantau akan mengundangmu, juga yang lainnya, ke Jakarta agar kita bisa bicara.
Bintang,
“Tetangga” kita sudah terusik oleh teriakan kita. Maafkan jika, sebagai moderator milis pantau-komunitas, aku mengambil jalan yang pasti tak kau sukai: MENGHENTIKAN POSTING MENGENAI “KERIUHAN” DI PANTAU. Kau bisa bilang aku tak demokratis. Otoriter. Aku tak peduli. Kita punya “rumah” sendiri, dan di sanalah kita bicara: milis pantau-kontributor.
Bagi para anggota milis pantau-komunitas, maafkan jika selama ini terganggu. Tapi, jika memang tertarik, Anda tetap bisa datang ke kantor Pantau di Jakarta untuk mempelajari kasus ini.
Bintang,
Aku tunggu kau di Jakarta .
Terima kasih.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment