01 August 2008
Kenapa Pantau Menelan Pil Pahit yang Kedua?
Kenapa Pantau Menelan Pil Pahit yang Kedua?
Gedung Trust di Jalan Arteri Iskandar Muda, 29 Maret 2004. Sekitar pukul 14.00, sepuluh kru Pantau berkumpul di ruang rapat, yang luasnya sekitar 5x6 meter.
Andreas Harsono, Agus Sopian, Budi Setiyono, Indarwati Aminuddin, Narliswandi Piliang hadir, semuanya pendiri Yayasan Pantau. Coen Husain Pontoh, Titarubi, Esti Wahyuni, Purwoto, Pak Ferdinand Wewengkang dari manajemen Trust, turut bergabung dalam rapat itu, termasuk saya.
Ruang ber-ac, ukuran sekitar 5x6 meter, nampak sempit. Tak semuanya bisa duduk di kursi yang merapat ke sebuah meja. Narliswandi dan Coen berdiri di depan papan tulis berwarna putih. Karena tak ada kursi lagi, saya duduk pada sebuah troly biru yang biasa dipakai untuk mengangkut majalah Trust, kadang juga dipakai untuk majalah Pantau.
Ini bukan rapat biasa. Ketegangan-ketegangan sudah terpancar pada wajah-wajah mereka sebelum rapat dimulai. Sejak di awal rapat, ruangan itu sudah terisi oleh suara-suara bernada keras dan tinggi. Dalam waktu singkat, debat sengit dalam rapat itu pun pecah.
Andreas Harsono, juga Budi Setiyono, melontarkan sejumlah pertanyaan kepada Narliswandi Piliang, tentang lenyapnya uang yang dipakai untuk menerbitkan majalah Pantau. Uang telah bocor ketika edisi keempat, Maret 2004, akan terbit.
Pertanyaan dan pendapat itu dapat jawaban yang keras dan emosional. Narliswandi, berulang kali dengan wajah memerah, menuding-nudingkan jarinya ke arah Andreas, Budi, dan teman-teman lainnya.
Coen berdiri bersebelahan dengan Narliswandi. Ia turut berbicara, menengahi perdebatan sengit itu. Meski suaranya sedikit terbawa bernada tinggi, namun tetap terkontrol, ia meredakan perdebatan itu. Ia berulangkali mendinginkan, “dengan kawan bicara baik-baiklah,” kurang lebih yang saya ingat demikian.
Agus Sopian, saya lihat lebih berada di luar ruangan. Ia menghisap rokok di dekat jendela, dekat lift. Wajahnya nampak serius, memikirkan gejolak Pantau, yang sedang mendidih di ruang rapat itu.
Saya ingat, dia kecewa ketika rapat molor, menunggu Narliswandi. Ia menunjukkan tiket kereta api yang telah dibelinya telah hangus. Demi Pantau, ia merelakan tiket itu.
Titarubi saat itu tak banyak bicara. Ia saya lihat berperan sebagai mediasi pertemuan Narliswandi dan Kru Pantau lainnya. Esti Wahyuni nampak banyak bicara, berulang kali ia ingin mendudukan perkara supaya debat kusir dihentikan.
Saya sendiri tetap di troly biru, mendengarkan dan mengikuti rapat itu. Ketika rapat tak kondusif lagi, Narliswandi melontarkan ancaman-ancaman, yang diucapkan sangat emosional dan keras, saya keluar dari ruangan itu. Saya duduk, kadang berdiri, mendengarkan dari balik dinding dan pintu.
Rapat bubar jam 8 malam. Hari itu keletihan saya sempurna. Ini hari pertama menginjakkan kaki di kota Jakarta. Usai kereta api berhenti di stasiun Jatinegara, tak ada waktu istirahat lagi. Hari pertama saya di Pantau menikmati suasana kekacauan.
Usai rapat itu, hari-hari saya menghadapi keterpurukan Pantau. Saya bekerja bersama Indarwati dengan 2 komputer dan tempat kerja kami terletak diantara “jalan umum” ruangan manajemen Trust. Hilir mudik para pekerja Trust saat kami bekerja jadi situasi yang biasa. “Serba tak enak” itu biasa. Saya dan Indar, juga Purwoto-sirkulasi Pantau, mengalami rasa tak enak itu. Kami menerima tumpahan-tumpahan tak enak itu, maklum, kami seperti penumpang saja di kantor itu.
“Baru beberapa minggu saya ngantor di Pantau, suasana sangat tidak mengenakkan. Saya lihat Pantau dalam kondisi terpuruk, sangat terpuruk. Pantau, dalam otak saya, terisi orang-orang hebat dan berkualitas. Itu alasan kenapa saya ingin belajar menulis dan menjadi wartawan yang baik. Maka, ketika kuliah saya mengharuskan Kuliah Kerja Lapangan, saya pun memilih Pantau, sebagai tempat KKL atau magang itu.” Saya menuliskan ini dalam laporan Kuliah Kerja Lapangan, untuk jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Saya tahu Pantau sudah tak terbit lagi. Andreas mewanti-wanti sejak pertama saya kirim email kepadanya. Namun, buat saya Pantau telah memikat. Saya tak mengurungkan niat itu.
Pada laporan di halaman 4, saya menulisnya, “ditengah kondisi itu, saya telah mengirimkan proposal kuliah kerja lapangan. Pantau menerima. Saya berangkat dengan pikiran agak bimbang. Dan sebagian orang menyebut “edan”, belajar di majalah yang tidak terbit lagi. Saya memasuki Pantau yang masih menyisakan geliatnya. Dan saya belajar ketika Pantau sedang bekerja keras menghidupkan kembali. Saya belajar saat Pantau didera kecewa, sedih, dan ironi.”
Sejak itu, selama 34 hari di Pantau, saya belajar dan sekaligus menyaksikan tindakan ketidakjujuran yang telah menjatuhkan Pantau. Persoalan bocornya keuangan menyebabkan majalah Pantau tak terbit lagi untuk yang kedua kalinya. Namun, lebih dalam lagi, saya menyaksikan dan turut mengalami orang-orang yang didera kehancuran, kesepian, karena menjadi korban tindakan mementingkan ambisi dan kepentingan diri sendiri. Proyek idealisme yang dibangun bersama, dari keringat bersama, hancur oleh tindakan segelintir anggotanya.
Dalam kebimbangan dan kesepian, karena dapur redaksi tak hidup, saya, Indar, Purwoto, Andreas, Buset, masih menunjukkan geliat idealisme. Kami masih mengadakan diskusi bulanan, atau dua mingguan. Perbincangan soal media dan jurnalisme tetap berjalan. Saya sempat memeriksa naskah para kontributor yang diterbitkan dalam buku Antologi Jurnalisme Sastrawi.
Saat itu, orang-orang Pantau mengalami kepahitan. Ada yang mencari pekerjaan lain, ada juga yang meratapi tanpa punya pekerjaan selama beberapa bulan. Dan, akhirnya saya belajar banyak kepada orang-orang yang tetap bertahan di saat-saat kejatuhan Pantau. Orang-orang tak pergi atau meninggalkan saat Pantau terkulai. Andreas Harsono, Agus Sopian, Budi Setiyono, Indarwati, tetap bangkit lagi.
Pergulatan Pantau belumlah selesai. Setahun terakhir, beberapa “pendiri” Pantau gelombang kedua, meninggalkannya. Sejak 2003, Pantau split dari Utan Kayu, markas pendiri pertama, Goenawan Mohamad dan kawan-kawan. Tahun 2005, Indar kerja di Kendari. Pekerjaan sebagai bendara board tak bisa dilakukan maksimal karena jarak yang jauh. Dan, ia baru saja mengirim surat mengundurkan diri, ketika Pantau bergejolak lagi. Narliswandi diberhentikan dari Yayasan Pantau tanpa selembar berita acara. Tahun 2007, Sopian mundur.
Kini, sebuah program yang dibangun oleh Pantau menjadi pertaruhan kembali. Kantor Berita Feature Pantau Aceh yang berjalan sekitar tiga tahun didera oleh ambisi segelintir orang.
Persoalan keuangan kembali menghentikan program itu. Dan, lebih menyedihkan lagi, ambisi pribadi, ketidakjujuran, menjadi nahkoda kapal Pantau. Dan, Pantau yang dibangun kembali selama kurang lebih tiga tahun, akhirnya terjatuh lagi.
Saya pun memutar rekaman ingatan ketika Pantau berkantor di Jalan Arteri Iskandar Muda, yang letaknya sekitar 1 kilometer ke kantor Pantau saat ini, di Jalan Kebayoran Lama 18 CD.
Saya ikut menelan pil pahit Pantau, untuk kedua kali. Lebih pahit dari yang pertama karena pemberi pil pahit itu berada dalam kantor, yang juga menjadi tempat saya bekerja.
Saya kecewa, di Pantau berisi orang-orang yang tak mengerti sejarah pahit itu, bahkan yang mengerti pun telah melupakannya, bahwa Pantau dibangun dari garis perjuangan.
Apa pun alasannya, orang-orang yang merusak perjuangan itu dengan ambisi pribadi, dan yang mendukung praktik-praktik ketidakjujuran, terlebih diskriminasi diantara kawan-kawannya sendiri, sebaiknya tahu diri, bahwa Pantau bukanlah tempat yang tepat untuk itu.
Salam,
Basilius Triharyanto
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment