07 August 2008

Mengapa Saya Mendokumentasikan Konflik PANTAU

Mengapa saya mendokumentasikan konflik di PANTAU? Ada banyak alasan untuk pertanyaan ini. Alasan pertama dan paling utama adalah: Saya mencintai komunitas ini. Saya sudah mengetahui komunitas ini sejak kuliah dan aktif di pers mahasiswa. Namun saya praktis mulai mengenal orang-orangnya pada pertengahan akhir 2007. Perkenalan itu diawali oleh tulisan saya yang dimuat di website.

Alasan kedua, saya merasa sedang menyaksikan sebuah bagian dari proses sejarah jurnalisme di Indonesia. Nama PANTAU cukup besar di dunia jurnalisme Indonesia. PANTAU membawa warna dengan segala kelemahan dan kelebihannya, dan mungkin kesombongannya akan idealisme dan kebersahajaan para pegiatnya.

Konflik ini adalah bagian dari keping sejarah. Saya mungkin tak terlibat banyak. Saya tak berani berkomentar. Saya hanya orang baru yang harus banyak belajar. Saya hanyalah sang penonton. Maka saya beranikan diri untuk mendokumentasikan konflik ini.

Saya hanya mendokumentasikan surat-surat yang dikirimkan sejumlah orang mengenai konflik ini, dalam milis PANTAU KOMUNITAS. Mungkin, kelak, surat dan ajang debat ini bisa bermanfaat bagi siapapun.

Mengenai nama blog WARS WITHIN. Sengaja saya pinjam dari judul buku Janet Steele, seorang pengampu jurnalisme sastrawi di PANTAU. Buku ini mengenai TEMPO dan konflik di dalamnya. Saya merasa nama blog ini cukup tepat untuk menggambarkan isi blog ini.

Mengenai motto: MENDOKUMENTASIKAN API PERSELISIHAN SEMBARI MENGHARAPKAN AIR PERDAMAIAN, saya pikir sudah jelas. Tak ada api yang tak akan padam oleh air.

Terakhir, saya percaya: Becik ketitik ala ketara. Kebenaran sekecil apapun akan tersingkap jua pada akhirnya. (*)

06 August 2008

Re: [pantau-kontributor] Menghentikan Posting



Mas Buset yg tercinta,

Terimakasih sudah menegur dan mengingatkan saya. Ingin rasanya bisa jumpa dan diskusi lagi dengan mas. Atau sekadar bermain karambol. Meski jarak lumayan jauh dan Pantau sudah menyatakan putus hubungan kerja saya, rasanya hubungan teman bisa tetap cair dengan bermain karambol.

Mas Buset.

Saya kira saya tak sedang berteriak atau marah-marah. Kalau bertanya dan menggugat, nah ini lebih pas. Toh, apa salahnya untuk sekadar bertanya, Mas? Soal menggugat, apa itu tidak wajar wong tiba2 di-PHK sementara kontrak kerja tidak pernah ada? Saya pernah menagih soal kontrak kerja ini pada Mas Andreas Harsono sebagai kordinator program Aceh dan direktur eksekutif Pantau. Ia malah menyuruh saya untuk membuat kontrak kerja sendiri. Kira2, menurut dirimu ini benar nggak?

Mas Buset.

Saya malah makin penasaran, apa yg Mas maksud "bukan cara kita"? Dan seperti apa itu yg "cara kita"?

"Pembekuan PROGRAM PANTAU di Aceh tentu menghenyak perasaan kita. Tapi itu bukan akhir dari segalanya."

Mas, saya mau klarifikasi, pembekuan itu bukan cuma menghenyak perasaan kita, saya dan Mas. Tapi seluruh kontributor, terutama yg ada di Aceh sebagai dasar program ini dilakukan.

"Atau kau bisa menunggu pemberitahuan resmi itu datang, langkah-langkah stategis untuk mengatasi masalah ini diambil."

Saya justru bertanya, mengapa Mas dan forum board tidak menunggu kehadiran Mbak Linda Christanty atau wakil dari Aceh? Menurut saya itu bukan cara yg cukup bijak. Bukankah itu gaya manajemen sentralistik yg justru banyak dipakai di media2 Indopahit yg kerap dikritik Mas Andreas Harsono, Mas? Kalau mau bicara maju-mundurnya program Aceh, sewajarnya ya mengundang dan mendengarkan penjelasan orang2 yg bekerja langsung dan jumpalitan di medan Aceh. Itulah yg menurutku cara yg baik, Mas. Apalagi sampai menerbitkan kebijakan penting menyangkut program yg hampir tiga tahun berjalan.

"Mari turun dari geladak kapal. Kapal ini sudah oleng, bisa karam kalau kita tak menambal bolong-bolong itu. Aku yakin kau tak ingin kapal ini terbenam di dasar laut."

Betul, Mas!! Aku juga sama sekali tidak ingin kapal ini tenggelam. Tapi kalau bolong-bolongnya parah, sebaiknya tak perlu lagi ditambal. Langkah yg paling baik adalah lompat, cari sekoci, dan segera menumpang ke kapal lain. Bahtera ini kan luas, Mas.

"Aku yakin kau ingin kapal ini, Pantau, bisa berlayar lagi menuju lautan jurnalisme yang bermutu."

Untuk yg ini kau memang tak salah, Mas. Jurnalisme yg bermutu adalah yg mensucikan FAKTA dan metodenya verifikasi. Bukan yg berdasarkan "FEELING" loh... O iya, saya sudah mendengar rekaman pembicaraan rapat board tanggal 24 Juni lalu yg membahas soal Eva Danayanti. Mas juga di situ hadir, kan? Sunggur aneh, di luar kita usung jargon FAKTA dan VERIFIKASI sementara di dalam kita mendasarkan pada FEELING dan FITNAH. Apa kata para "Tetangga", Mas? Apa mereka tak akan lebih terusik?

"... aku mengambil jalan yang pasti tak kau sukai: MENGHENTIKAN POSTING MENGENAI "KERIUHAN" DI PANTAU." Silakan, Mas. Toh, itu tentu tak lebih sulit untuk membekukan aktivitas saya dan teman kontributor2 muda yg bekerja untuk program di Aceh.

Mas Buset.

Terimakasih untuk menunggu saya di Jakarta. Tapi, sekarang Alhamdulillah saya sudah berkeluarga. Ada istri, tak elok lah Mas. Kecuali tujuannya sekedar bermain karambol. Hehehehe....

salam hangat dari Aceh,

bintang.

05 August 2008

Menghentikan Posting


Bintang yang baik,



Sudah lama kita tak bicara. Tiba-tiba aku mendengar teriakanmu, kencang sekali. Ada kemarahan. Pertanyaan. Gugatan. Penolakan. Aku tergagap, tak mampu bicara.



Teriakan itu bukan cara kita. Ia hanya menunjukkan kelemahan kita sebagai manusia, yang kadang kehilangan akal sehat, yang alpa merendahkan hati. Dan sadarkah, kita sedang menepuk air di kolam.



Pembekuan PROGRAM PANTAU di Aceh tentu menghenyak perasaan kita. Tapi itu bukan akhir dari segalanya. Jiwa kita sudah lama tinggal di sana . Juga di Papua, Borneo, Ende, Balikpapan ,… sebutkan nama lainnya, tempat Pantau pernah dan akan berbagi program-program untuk memajukan jurnalisme.



Ketika berita itu sampai ke telingamu, tidakkah lebih elok kita mengendapkan pikiran, melongok ke dalam diri kita sendiri. Kau bisa mempertanyakannya langsung secara institusional. Atau kau bisa menunggu pemberitahuan resmi itu datang, langkah-langkah stategis untuk mengatasi masalah ini diambil. Tapi air sudah kadung menerpa wajah kita. Kita sendiri yang basah olehnya.



Mari turun dari geladak kapal. Kapal ini sudah oleng, bisa karam kalau kita tak menambal bolong-bolong itu. Aku yakin kau tak ingin kapal ini terbenam di dasar laut. Aku yakin kau ingin kapal ini, Pantau, bisa berlayar lagi menuju lautan jurnalisme yang bermutu.



Mari kita bicara dari hati ke hati, bertatap muka. Pantau akan mengundangmu, juga yang lainnya, ke Jakarta agar kita bisa bicara.



Bintang,



“Tetangga” kita sudah terusik oleh teriakan kita. Maafkan jika, sebagai moderator milis pantau-komunitas, aku mengambil jalan yang pasti tak kau sukai: MENGHENTIKAN POSTING MENGENAI “KERIUHAN” DI PANTAU. Kau bisa bilang aku tak demokratis. Otoriter. Aku tak peduli. Kita punya “rumah” sendiri, dan di sanalah kita bicara: milis pantau-kontributor.



Bagi para anggota milis pantau-komunitas, maafkan jika selama ini terganggu. Tapi, jika memang tertarik, Anda tetap bisa datang ke kantor Pantau di Jakarta untuk mempelajari kasus ini.



Bintang,



Aku tunggu kau di Jakarta .



Terima kasih.

LINDA CHRISTANTY MENJAWAB TUDUHAN IMAM SHOFWAN (SAHABAT ANDREAS)


Berhubung Imam Shofwan melakukan pembunuhan karakter terhadap saya di blog-nya dan di milis ini, saya perlu menjawab tuduhan dan fitnahnya itu. Semua ada dalam file. Silakan baca. Perlu Anda ketahui, Imam Shofwan diskors untuk tidak boleh menulis selama setahun di Pantau karena dia melakukan plagitisme. Ia menjiplak tulisan Coen Husain Pontoh tentang dokter Kuba. Plagiatisme merupakan kejahatan di dunia intelektual. Imam masih menjalankan skorsing-nya sampai hari ini. Perkara plagiatismenya belum selesai, kini dia memulai perkara baru dengan menulis cerita bohong dan fitnah. Terima kasih,Linda

(Catatan Oryza: Saya hanya mengambil komentar Linda yang diselipkan di antara tulisan Imam Shofwan. Tulisan Imam Shofwan sendiri bisa dibaca di bagian lain bloig ini)

Shofwan menulis: Linda dikenal temperamental, mulutnya tajam dan hampir semua orang di Pantau pernah merasakan tajamnya mulut Linda.
Linda menjawab: SEBAIKNYA DIJELASKAN DENGAN PERISTIWA, BUKAN KATA SIFAT.

Shofwan : Pada awal pembentukannya Pantau lebih banyak kegiatan pelatihan wartawan.
Linda :

Shofwan menulis: Yang paling keras Linda menyatakan tak lagi percaya dengan board Pantau.
Linda menjawab: EMAIL SOAL TIDAK PERCAYA INI DILIHAT DULU KONTEKSNYA DENGAN APA.

Shofwan : Yayasan Pantau adalah organisasi wartawan, tujuannya memajukan jurnalisme Indonesia. Pendirinya mantan kru Majalah Pantau yang didirikan Institut Studi Arus Informasi. Setelah majalah Pantau tak terbit lagi pada 2003...
Linda : COBA WAWANCARAI MAS GOENAWAN MOHAMAD, SANTOSO, ERIYANTO, BIMO NUGROHO, DAN ULIL ABSHAR ABDALLA, JOKO SUDARSONO, IRAWAN SAPTONO, WIRATMO PROBO, SUPAYA KAMU TAHU APA SEBABNYA DITUTUP DAN SEPERTI APA PANTAU DI SAAT AKU JADI REDAKTURNYA SAAT ITU. KAMU TIDAK TAHU PERCIS SEBAB PANTAU YANG INI DITUTUP. KAMU JUGA BISA WAWANCARA AKU. DAN KAMU AKAN DAPAT GAMBARAN SEPERTI APA ANDREAS DALAM MENANGANI KEUANGAN KONTRIBUTOR DAN PANTAU

Shofwan: Pada awal pembentukannya Pantau lebih banyak kegiatan pelatihan wartawan.
Linda : ADA YANG KAMU LUPA, BAHWA YAYASAN PANTAU SEMPAT MENDIRIKAN MAJALAH PANTAU (BUKAN KAJIAN MEDIA DAN JURNALISME LAGI. TAPI POLITIK DAN BUDAYA) DAN HANYA TERBIT TIGA KALI PADA TAHUN 2004. AKU SEMPAT MENJADI REDAKTUR SUKARELA. ANDREAS MINTA AKU JADI REDAKTUR, TAPI AKU MEMILIH BANTU NGEDIT. NAMAKU NGGAK DICANTUMKAN DI MASTHEAD. BUSET JADI REDAKTUR BAHASA DI PANTAU VERSI INI. TITA RUBI REDAKTUR DESAIN. KANG AGUS REDAKTUR NASKAH. MOHAMMAD IQBAL REDAKTUR FOTO.
ALASAN TUTUP YANG DIBERIKAN ANDREAS SECARA RESMI KEPADA PUBLIK ADALAH KARENA NARLISWANDI/IWAN PILIANG MEMBAWA KABUR UANG PANTAU (COBA KAMU WAWANCARAI PILIANG DAN ARIFIN WASHAR). NAH, KAMU BISA MEMBACA EMAIL KLARIFIKASI IWAN JUGA DI MILIS KOMUNITAS INI. TAPI YANG KUTAHU DARI MAS GOEN DAN MAS SANTOSO, ANDREAS TAK BISA MEMPERTANGGUNGJAWABKAN DANA RP 240 JUTA DARI KEDUTAAN AMERIKA YANG DIBERIKAN VIA ISAI KEPADA PANTAU JILID II INI. KAMU WAWANCARAI MAS GOEN DAN MAS SANTOSO, DEH.

Shofwan : Pantau membuka kantor cabang di Aceh dan mengajak Linda Christanty untuk menangani program ini.
Linda : BUKAN MENGAJAK, TAPI DIMINTA. ANDREAS MENELEPON SAYA AGAR BERPIKIR DALAM DUA HARI, KARENA KANG AGUS TAK BISA KE ACEH DALAM WAKTU LAMA DENGAN ALASAN TIDAK BISA MENINGGALKAN ANAKNYA. BUSET MENOLAK. INI KATA ANDREAS.

Shofwan : Pembagian kerja ini sering menimbulkan percekcokan antara kru Pantau dan sering diselesaikan dengan kompromi dan cara kekeluargaan. Misalnya, Linda orang yang tidaksabaran dan sering marah-marah kalau mengedit tulisan yang dinilainya buruk. Entah karena salah ejaan, sumbernya kurang banyak atau yang lainnya. Kalau sudah begitu dia bisa ngomel-ngomel lama baik di email, sms atau telpon. Katanya dia jadi senewen dengan tulisan macam begituan.
Linda: DAN ITU ADA MANFAATNYA BUKAN? ITU KARAKTER. BUKAN KEJAHATAN. KALAU AKU TIDAK GALAK DAN TELITI, KAMU TAHU SENDIRILAH…. MASA’ HARUS KUJELASKAN LAGI APA YANG TERJADI.

Shofwan : Kalau sudah begitu biasanya Andreas atau Buset, sapaan akrab Budi Setiyono, atau Kang Agus, panggilan Agus Sopian, yang akan menangani tugas Linda membantu mengedit tanpa dibayar.
Linda : KAMU CEK LAGI DAN HITUNG, DARI AKHIR 2005-SEKARANG, DI PROGRAM ACEH BERAPA PERSEN NASKAH YANG AKU EDIT? COBA LIHAT DATANYA. Ini menjadi kebiasaan walau tidak ada aturan tertulis. HATI-HATI DENGAN ASUMSI INI.

Shofwan : Pada bulan-bulan awal produksi berita sangat lambat. Linda kesulitan mendapatkan tema liputan di Aceh dan sering dibawelin Kang Agus bahkan sampai disuplay tema liputan dari Jakarta via email atau saat menelepon.
Linda : PASTI KESULITAN, KARENA DI ACEH HARUS MEMBANGUN KANTOR FEATURE DAN MENCARI WARTAWAN/PENULIS SENDIRI. SAYA JUGA TIDAK MEMPEROLEH JOB DESCRIPTION, WORKPLAN, APALAGI KONTRAK KERJA. JADI SEPERTI SUPERWOMAN DEH.

Shofwan : Linda tak pernah protes walau dia editor Aceh yang khusus dibayar untuk itu.
Linda : PERNYATAAN INI SUDAH SAYA JAWAB DI ATAS. HATI-HATI KALAU BERASUMSI.

Shofwan : Sebagai tenaga freelancer tugas saya membikin berita yang bagus, sumbernya lebih dari tiga, tak ada salah ejaan, terus menulis dengan gaya bertutur. Kantor hanya memodali sebuah voice recorder dan buku catatan untuk liputan. Ongkos liputan, baterai untuk voice recorder, transportasi ditanggung penulis sendiri. Kalau tulisan tidak dimuat saya harus mengikhlaskan duit honor tulisan melayang.
Linda : KEBIJAKAN SEPERTI ITU URUSAN YAYASAN PANTAU DI JAKARTA. POSISI SAYA SANGAT JELAS. BACA EVALUASI FIONA: SAYA ADALAH CHIEF EDITOR.

Shofwan : Ini berbeda dengan saat Pantau bikin majalah semua liputan diongkosi, ada pengecek fakta dan seterusnya namun kualitas tulisannya tetap dipertahankan.
Linda : TANYA KEPADA YAYASAN PANTAU.

Shofwan : Saya sering mengalami hal tersebut, dan kalau ada kesalahan Linda akan ngomel-ngomel tidak produktif, malas dan sebagainya, tanpa mau tahu kesulitan para kontributor. Saya tak pernah mau menanggapi tuduhan tersebut dan hanya mengelus dada sembari berharap dia sadar dan bertanya kenapa?
Linda : SAYA TIDAK PERNAH NGOMELIN KAMU KARENA KAMU MALAS MENULIS, TAPI KARENA KAMU MALAS MELENGKAPI DATA. MASA’ SUMBER CUMA SATU. SAYA SELALU NGOMEL KARENA TULISAN KAMU DI BAWAH STANDAR PANTAU. MASA’ HARUS SAYA KATAKAN LAGI SIH SOAL INI.

Shofwan : Selain soal tulisan banyak juga persoalan-persoalan yang ditimbulkan Linda pada awal pembukaan kantor Aceh. Dia pernah mengusir Chik Rini dan mamanya dari kantor Pantau. Rini kontributor majalah Pantau dan asli Aceh. saat itu dia menemani Linda dan membantu mencarikan pembantu buat Linda. Rini dan Ibunya bikin café dan hanya beberapa hari diusir Linda gara-gara asap kompornya masuk ke kamar Linda.
Linda : HAHAHAHAHAHAHAHAHA… INI FITNAH. TAPI MEMBUAT SAYA INGIN TERTAWA SAKING LUCUNYA. YANG BENAR SEPERTI INI: CHIK RINI BUKAN KONTRIBUTOR PANTAU DI ACEH. DIA KONTRIBUTOR MAJALAH PANTAU PERTAMA YANG SAYA JADI EDITORNYA (2000-2003).
ANDREAS MEMINTA RINI MENCARI GEDUNG UNTUK KANTOR PANTAU ACEH, KARENA ANDREAS DEKAT SAMA RINI SECARA PRIBADI SEPERTI KAMU DEKAT DENGAN ANDREAS JUGA. GEDUNG TIGA LANTAI DI SAMPING KODAM ISKANDAR MUDA PUN DISEWA RP 30 JUTA PER TAHUN, ARTINYA SEWA TIAP LANTAI RP 10 JUTA. RINI MENCARI GEDUNG INI BUKAN TANPA DIBAYAR (SILAHKAN CEK KE EVA). DIA MINTA ONGKOS TRANSPORT RP 1,5 JUTA DAN DIBAYAR EVA (CEK KE EVA). ANDREAS BILANG KE AKU BAHWA RINI MENCARI GEDUNG TANPA PAMRIH. ITU SALAH BESAR. RINI MINTA Rp 1,5 JUTA KOK.
AKU SEMPAT BERTENGKAR DENGAN ANDREAS WAKTU DIA MEMBERIKAN SATU LANTAI UNTUK DIJADIKAN WARUNG OLEH IBU CHIK RINI. ALASANKU SEDERHANA: TAK BERKAITAN DENGAN PROGRAM OSI DAN KANTOR FEATURE. BAGAIMANA KALAU DI-AUDIT NANTI?
ANDREAS BILANG, KELUARGA RINI MISKIN DAN RINI BISA BANTU AKU NULIS 15 RIBU KATA PERBULAN KALAU DIBERI SATU LANTAI UNTUK BUKA WARUNG. TAPI RINI TAK PERNAH NULIS, KARENA IA SIBUK MEMBANTU IBUNYA MASAK (COBA WAWANCARAI DONNA LESTARI—ADMIN PANTAU ACEH).
SUMBER MASALAH SEBETULNYA DIPICU OLEH HUBUNGAN PRIBADI RINI DAN ANDREAS INI.
BEGINI CERITANYA: IBU RINI MENCARIKAN OFFICE BOY UNTUK PANTAU ACEH.
OFFICE BOY YANG BERNAMA MUSLIM ITU ADALAH KENALAN IBU RINI. ABANG MUSLIM ADALAH TEMAN DARI SOPIR TAKSI YANG DIKENAL IBU RINI.
MUSLIM KEMUDIAN DIPEKERJAKAN UNTUK MEMBERSIHKAN KANTOR PANTAU ACEH, MENGIRIM PAKET, ATAU HAL YANG BERKAITAN DENGAN PANTAU ACEH. GAJINYA RP 1 JUTA PER BULAN. DIA BEKERJA DARI SENIN SAMPAI JUMAT.
TAPI KETIKA WARUNG DIBUKA, OFFICE BOY PANTAU YANG BERNAMA MUSLIM MEMBANTU IBU RINI DI WARUNG, SEMENTARA PEKERJAANNYA SENDIRI DI PANTAU ACEH TERBENGKALAI (SILAHKAN WAWANCARAI DONNA LESTARI) DAN WAKTUNYA LEBIH BANYAK DI WARUNG.
AKU KEMUDIAN MENGAJAK IBU RINI BICARA LANGSUNG DUA KALI (SAKSINYA: DONNA LESTARI). AKU BILANG, SILAHKAN SAJA DIA MEMPEKERJAKAN OFFICE BOY, TAPI BEBAN KERJA MUSLIM YANG LEBIH BANYAK DI WARUNG ITU HARUS DIBICARAKAN JUGA. APAKAH PANTAU ACEH DAN IBU RINI PATUNGAN MEMBAYAR MUSLIM ATAU MUSLIM SILAKAN BEKERJA DENGAN DIA, SEHINGGA PANTAU ACEH TIDAK PERLU MEMBAYAR MUSLIM LAGI.
IBU RINI MENGATAKAN BAHWA DIA AKAN MELAPORKAN AKU KEPADA ANDREAS. SEBAB ANDREAS SUDAH MEMBERI DIA WEWENANG PENUH UNTUK MEMERINTAHKAN MUSLIM, BAHKAN DI HARI LIBUR KANTOR. AKU KATAKAN KEPADA IBU RINI, SILAKAN SAJA LAPOR.
DI LAIN PIHAK, MUSLIM KUTEGUR AGAR BEKERJA LEBIH BAIK, SAMPAI-SAMPAI DONNA (OH, YA, DONNA ADALAH SAUDARA SEPUPU RINI. IBU RINI DAN AYAH DONNA KAKAK-BERADIK. BAHKAN DONNA ADALAH ORANG YANG MINTA AKU BERSIKAP TEGAS PADA MUSLIM. DONNA JUGA BILANG DIA MALU PADA BIBIKNYA YANG. SUDAH DIBERI RUANG USAHA, TAPI MASIH MENCAMPURI URUSAN PANTAU) HARUS MENEMPELKAN APA YANG HARUS MUSLIM LAKUKAN TIAP HARI DI KAMARNYA. MUSLIM KUPANGGIL TIGA KALI DAN KUTANYA APA KESULITAN DIA DALAM MEMBERSIHKAN GEDUNG (AKU SERING MENGURAS BAK DAN NGEPEL SENDIRI, DIBANTU DONNA). DIA JUGA KUBERITAHU BAHWA TUGAS UTAMANYA ADALAH UNTUK PANTAU ACEH. KARENA PANTAU ACEH YANG MENGGAJI DIA TIAP BULAN. DIA JUGA LEBIH SERING MENGHILANG SAAT DIBUTUHKAN UNTUK MENGIRIM PAKET, KARENA MEMBANTU WARUNG ITU.
IBU RINI TETAP TAK MENGINDAHKAN APA YANG AKU BICARAKAN DENGAN DIA. BAHKAN MARCO KUSUMAWIJAYA MEMBERITAHU AKU SOAL MUSLIM YANG MASIH JUGA MENGERJAKAN URUSAN WARUNG. MARCO DATANG KE ACEH WAKTU ITU, MAIN KE KANTOR PANTAU ACEH, DAN MENYAKSIKAN SENDIRI APA YANG TERJADI.
SELAIN ITU, MUSLIM MASIH DALAM MASA PERCOBAAN. JADI KUKATAKAN BAHWA KONTRAK MUSLIM TAK AKAN DILANJUTKAN DAN TIDAK AKAN DIANGKAT SEBAGAI STAF, KARENA TIDAK MELAKSANAKAN APA YANG JADI TUGASNYA DENGAN BAIK (LEBIH AKTIF DI WARUNG). DONNA ADALAH SAKSINYA.
IBU RINI JUGA MINTA MUSLIM MASUK KERJA PADA HARI SABTU, PADAHAL SABTU DAN MINGGU ADALAH HARI LIBUR DI KANTOR PANTAU ACEH. ALASAN IBU RINI? DIA TAK PUNYA KUNCI. KETIKA KUBILANG AGAR DIA BIKIN KUNCI DUPLIKAT, ALASAN LAIN DIBERIKANNYA, YAITU SUKAR MEMBUKA GEMBOK YANG KERAS. JADI DIA MINTA MUSLIM DATANG DARI RUMAHNYA DI HARI SABTU HANYA UNTUK BUKA PINTU KANTOR PANTAU ACEH AGAR DIA BISA BUKA WARUNG DI HARI SABTU.
SINGKAT KATA, KONTRAK MUSLIM TAK KULANJUTKAN. SIANG HARI AKU BICARA DENGAN MUSLIM DAN MEMBERI GAJI TERAKHIRNYA. TANGGAL DAN BULAN AKU LUPA. TAPI PASTI ADA CATATANNYA DI DONNA. MALAM HARINYA, RINI MENELEPON AKU, “MBAK LINDA MEMECAT MUSLIM KARENA BANTU IBU RINI DI WARUNG YA?” INILAH KALIMAT PERTAMA YANG DIA LONTARKAN.
DULU ALASAN ANDREAS DAN RINI MEMBUKA WARUNG ADALAH AGAR PANTAU ACEH DIKUNJUNGI BANYAK WARTAWAN. KENYATAANNYA, WARTAWAN TAKUT DATANG. YANG DATANG ADALAH TENTARA-TENTARA. KANTOR KAMI WAKTU ITU BENAR-BENAR BERSEBELAHAN DENGAN MARKAS KODAM ISKANDAR MUDA.
WARUNG KUPUTUSKAN DITUTUP, KARENA MEMBUAT MASALAH YANG TAK ADA KAITAN DENGAN KEBUTUHAN KANTOR FEATURE. AKU MENGATAKAN PADA RINI BAHWA WARUNG DITUTUP SAJA, KARENA JADI SUMBER MASALAH. AKU BICARA VIA TELEPON DENGAN DIA.
OH, YA, SAKSI LAIN SOAL KASUS INI ADALAH MARCO KUSUMAWIJAYA, NANI AFRIDA, HOTLI SIMANJUNTAK, MURIZAL HAMZAH, DAN JUGA, TENTU SAJA, DONNA LESTARI. EVA DAN ANDREAS KUTELEPON DAN KUBILANG SOAL WARUNG YANG KUTUTUP INI KE MEREKA. ANDREAS TANYA KE AKU, SEBERAPA BESAR PENGARUH RINI DI KALANGAN WARTAWAN ACEH. AKU BILANG, MENURUT WARTAWAN-WARTAWAN ACEH, DIA TAK PUNYA PENGARUH. MENULIS SAJA RINI TIDAK PERNAH LAGI. RINI KERJA JADI BENDAHARA YAYASAN ASWAJA KETIKA ITU.
WARUNG ITU BERJALAN BEBERAPA BULAN, BUKAN BEBERAPA HARI SEPERTI KATA KAMU. JUGA TIDAK ADA ADEGAN PENGUSIRAN RINI DAN MAMANYA DI WARUNG. HAHAHAHAHA…. JUGA TIDAK ADA MASALAH ASAP. KAMARKU DI LANTAI TIGA DAN TERTUTUP RAPAT, KARENA BER-AC. WARUNG DI LANTAI SATU. DARI MANA KAMU NGARANG MASALAH ASAP DAN KRONOLOGI YANG KACAU INI?

Shofwan : Linda tak pernah bisa menahan emosi, temperamental dan jarang mengoreksi diri.
Linda : MASA’? BERIKAN CONTOH DENGAN PERISTIWA.

Shofwan : Dia juga tak pernah minta maaf kalau melakukan kesalahan.
Linda : SEBUTKAN KESALAHAN SAYA TERHADAP KAMU.

Shofwan : Kesalahan Andreas membiarkan Linda menjadi sewenang-wenang semacam ini. Andreas selalu menutupi kekurangan Linda bahkan kalau Linda tak bikin laporan tahunan Andreas akan membikinkan untuknya, terkadang Eva juga. Ini tak hanya sekali dan yang aneh, sudah tak bikin laporan Linda malah mencak-mencak, katanya, dia editor dan bikin laporan bukan tugasnya. Andreas dan Eva, biasanya, yang direpotkan dengan ulahnya ini.
Linda : MASA’? NGGAK BENAR TUH. COBA CEK DARI MANA ANDREAS DAPAT DATA LAPORAN ACEH KALAU BUKAN DARI LAPORANKU. ANDREAS KAN DI JAKARTA. HAHAHAHAAHA….

Shofwan : Linda menanggapi email dari Andreas Harsono yang sebelumnya menginformasikan penutupan kantor Pantau di Aceh. Pantau dibekukan karena ketiadaan dana untuk melanjutkan program Aceh. Saya mengikuti pembicaraan soal ini dari milis Pantau tanpa berminat untuk menanggapinya, karena; saya tak yakin tahu pasti duduk perkaranya, kapok dimarahi Linda dan khawatir menambah ruwet persoalan.
Linda : PEMBEKUAN DAN PEMECATAN YANG DILAKUKAN ANDREAS TENTU KAMI TOLAK SAMPAI HARI INI. APA ALASAN ORGANISASIONALNYA?

Shofwan: Yang paling vokal; Samiaji Bintang, Linda Christanty, Hairul Anwar; ketiganya dari Jakarta. Saya memahami kenapa mereka menuntut demikian. Mereka menuntut transparansi keuangan Pantau dan menolak penutupan ini. Selama ini, ketiga orang ini, yang diistimewakan di antara kontributor Pantau yang lain.
Linda : IMAM, SAYA ITU BUKAN DIISTIMEWAKAN. SAYA BUKAN KONTRIBUTOR. SAYA ADALAH CHIEF EDITOR PANTAU ACEH DAN SAYA DIGAJI UNTUK ITU.

Shofwan : Bintang dan Linda mendapatkan gaji bulanan dan asuransi sedang Arul, sapaan akrab Khairul Anwar, yang didatangkan ke Aceh belakangan baru mendapat Asuransi saja.
Linda : TENTU SAJA ADA GAJI DAN HONOR, JUGA ASURANSI KARENA ITU ADA DALAM BUDGET OSI DAN CORDAID (UNTUK HONOR BINTANG). ASURANSI KAMI JUGA DI-COVER DENGAN DANA OSI, KARENA KAMI BEKERJA UNTUK PROGRAM ACEH DI ACEH.

Shofwan : Banyak kontibutor Pantau baik yang di Aceh, Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan seterusnya yang tidak mendapat fasilitas istimewa dan tidak seberapa tapi penting ini. Kebanyakan kontributor ini diam saja dan menyimpan dalam hati karena mereka tahu di Pantau memang belum ada mekanisme khusus yang mengatur itu. Kita mengharapkan perbaikan tapi dengan cara yang beradab.
Linda : INI YANG KAMU PERLU TAHU: BUDGET OSI DAN CORDAID BUKAN UNTUK MEN-SUPPORT PANTAU SECARA KESELURUHAN, TAPI MEN-SUPPORT PROGRAM ACEH SAJA. PROYEK OSI DAN CORDAID ADALAH HANYA UNTUK PROGRAM ACEH. SELAMA INI ANDREAS MENGGUNAKAN BUDGET OSI UNTUK MEMBAYAR KONTRIBUTOR LUAR ACEH DAN ITU YANG DIKRITIK OSI. COBA BACA EMAIL SAYA DI MILIS. FIONA MENGATAKAN TIDAK BOLEH ADA LAGI TULISAN LUAR ACEH DAN BUKAN TENTANG ACEH YANG DIBAYAR DENGAN BUDGET OSI.

Shofwan : Pada akhir Juli ini, Andreas membuka semua dokumen yang menjadi dasar penutupan ini mulai dari korespondensi, hasil audit, laporan keuangan Pantau dan seterusnya. Andreas juga menelpon para kontributor baik di Jakarta atau di Aceh untuk menjelaskan hal ini. Tapi kontributor di Aceh kebanyakan menolak untuk dijelaskan. Bagaimana mungkin bisa mendapatkan informasi seimbang kalau menutup diri untuk informasi. Saya membaca sebagian besar dokumen enam bundel setebal 700 halaman bersampul biru itu.
Linda : KAMI BAHKAN PUNYA LEBIH LENGKAP TUH.

Shofwan : Kalau kawan-kawan di Aceh kesulitan untuk membaca dokumen itu karena alasan nggak punya duit untuk ke Jakarta. Saya bersedia mengongkosi kalian semua untuk bisa balik ke Jakarta. Nggak ding, aku kan lagi bokek karena sudah sembilan bulan di skors.
Linda : IMAM, KAMU DISKORS KARENA MELAKUKAN PLAGIATISME. PLAGITISME ITU KEJAHATAN INTELEKTUAL. SEHARUSNYA, JANGAN DITAMBAH LAGI DENGAN MENULIS LAPORAN YANG MENGARANG INI.

Orang-Orang Pantau



Kawans,

Saya mengikuti perdebatan soal pembenahan menejemen Pantau yang riuh. Kalau kurang jelas aku tanyakan pada fihak terkait, aku juga baca dokumen dan korespondensi yang mendasari beberapa keputusan kontroversial semakin memperkeruh perdebatan di milis ini. Hasilnya, aku coba sarikan ke tulisan.

Tadinya aku mau kirim tulisan itu ke milis ini, namun, karena tak ingin memperpanjang perdebatan yang sudah tak sehat ini aku pasang tulisan tersebut di blogku. Aku cuplikkan paragraf pertamanya. Bagi yang hendak membaca bisa meng-klik langsung ke judulnya.


Orang-orang Pantau

Imam Shofwan


JADI wartawan, saya membayangkan akan berantem dengan presiden, DPR, atau panglima ABRI karena tulisan-tulisanku. Saya kecewa dengan Pantau, sindikasi berita tempatku bekerja, karena menghabiskan waktu dan tenaga berantem dengan kawan. Makian dan cercaan berhamburan. Waktu habis bukan untuk mikir bikin berita bermutu.


Pertikaian ini, awalnya, dipicu rencana peluncuran website Pantau beberapa bulan lalu. Acara ini akan digelar di Aceh. Eva Danayanti, manager Pantau, terbang dari Jakarta ke Aceh untuk mengurusi acara ini.


“Pantau tak begitu dikenal di Aceh” begitu tulis Fiona Llyod, evaluator dari Open Society Institute (OSI), yang khusus datang, beberapa bulan sebelumnya, untuk mengevaluasi kerjasama Pantau dan OSI. Fiona mewancarai tokoh media untuk keperluan ini. Statemen di atas disimpulkan berdasarkan wawancara ini.


OSI adalah lembaga donor yang mensuport 75 persen kegiatan Pantau di Aceh sementara kekurangan dananya ditutup oleh lembaga donor lain yakni Cordaid.


Eva Danayanti, di kantor dipanggil Eva dan di rumah dipanggil Anti, menyimpulkan kekurangterkenalan Pantau karena kurangnya promosi. Solusinya dengan lounching website. Setelah di Aceh, Eva bikin pengajuan duit sebesar 31 juta untuk acara ini. Andreas Harsono, direktur-cum-board Pantau, tak setuju karena tidak ada alokasi dana untuk acara ini, baik dari Open Society Institute (OSI) maupun Cordaid. Ini melanggar kontrak.


Pengajuan ini disampaikan lewat email dan ditembuskan ke Budi Setiyono dan Artine Utomo, board Pantau, Linda Christanty, editor sindikasi berita Pantau tinggal di Aceh. Perdebatan pun melebar. Linda membela Eva untuk pencairan dana sementara Buset dan Artine Utomo mendukung Andreas. Suasana memanas.


Perdebatan masih berlangsung. Eva optimis dana bisa dicairkan. Dalam emailnya, Eva menyebut meski tak ada budget untuk acara ini namun dananya bisa diambil dari pos management fee. Eva pun mencari tempat launching dan mulai membandingkan harga serta fasilitas yang disediakan. Akhirnya pilihannya jatuh di hotel Hermes. Tempat diboking dan uang muka pun diserahkan.


“Harga yang mereka berikan relatif sama semua. Hotel Hermes dipilih dengan alasan ruangan pertemuan mereka memenuhi kriteria konsep launching kita,” tulis Eva dalam emailnya yang diberi judul ‘Pengajuan budget untuk Launching dan Journalism Corner’


Linda mengabarkan pembokingan ini ke Andreas. Tujuannya, menekan Andreas supaya mencairkan dana. Andreas bersikukuh tidak mencairkan dana selain karena tidak ada dalam anggaran juga karena takut kena pinalti dari lembaga donor. Keputusannya tetap: pencairan dana tidak disetujui.


Linda dikenal temperamental, mulutnya tajam dan hampir semua orang di Pantau pernah merasakan tajamnya mulut Linda. Dia kecewa dengan keputusan ini dan menolaknya. Via email Linda memaki-maki Andreas, Artine dan Budi Setiyono dalam kapasitas mereka sebagai board Pantau. Menurut Linda, mereka tak mengerti kebutuhan riil Pantau di lapangan dan tidak mau tahu kebutuhan ini.


Linda tak terima dengan keputusan ini. Menurutnya tak semua keputusan board musti ditaati dan tak semua kebijakan program Aceh harus seizin board Pantau. Dia mengumpamakan diri seperti anak kecil yang musti izin orang tuanya kalau mau berak, pipis atau makan.


Yang paling keras Linda menyatakan tak lagi percaya dengan board Pantau. Lounching pun dilaksanakan tanpa persetujuan dari board Pantau.


***


Yayasan Pantau adalah organisasi wartawan, tujuannya memajukan jurnalisme Indonesia. Pendirinya mantan kru Majalah Pantau yang didirikan Institut Studi Arus Informasi. Setelah majalah Pantau tak terbit lagi pada 2003, banyak kru Pantau yang kecewa, termasuk Andreas Harsono, Budi Setiyono, Agus Sopian, dan Indarwati Aminuddin, dengan penutupan ini. Mereka lalu membentuk Yayasan Pantau, terpisah dari ISAI.


Yayasan ini mengelola milis Pantau Kontributor dan Pantau Komunitas. Bentuk organisasinya lebih bersifat komunitas, tak banyak aturan dan wartawan bisa keluar masuk komunitas ini dengan mudah.


Pada awal pembentukannya Pantau lebih banyak kegiatan pelatihan wartawan.


Awal 2006 saya mulai menulis buat Pantau. Saat itu, Pantau baru merintis kantor berita online dan fokus beritanya soal Aceh pasca tsunami. Pantau membuka kantor cabang di Aceh dan mengajak Linda Christanty untuk menangani program ini.


Website belum lagi selesai dibangun namun produksi tulisan sudah dimulai. Untuk sementara waktu tulisan-tulisan ini dimuat di blog Andreas Harsono. Di Jakarta, saya dan Samiaji Bintang diminta membantu meliput pembahasan Undang-Undang Pemerintah Aceh di DPR RI.


Saya sadar Pantau masih belum mapan saat itu dan bahkan sampai saat ini. Aturan, pembagian kerja, dan sistem keuangannya belum jelas. Sebagai kontributor tak ada kontrak apapun. Saat itu, yang ada di kepala saya hanya belajar menulis yang baik dari orang-orang yang saya gemari karyanya. Saya menikmati sekali menulis dan diedit oleh Andreas Harsono, Agus Sopian, Budi Setiyono dan Linda Christanty. Saya menikmati ini sebagai kemewahan dan terkadang membesarkan kepala.


Pembagian kerja ini sering menimbulkan percekcokan antara kru Pantau dan sering diselesaikan dengan kompromi dan cara kekeluargaan. Misalnya, Linda orang yang tidaksabaran dan sering marah-marah kalau mengedit tulisan yang dinilainya buruk. Entah karena salah ejaan, sumbernya kurang banyak atau yang lainnya. Kalau sudah begitu dia bisa ngomel-ngomel lama baik di email, sms atau telpon. Katanya dia jadi senewen dengan tulisan macam begituan.


Kalau sudah begitu biasanya Andreas atau Buset, sapaan akrab Budi Setiyono, atau Kang Agus, panggilan Agus Sopian, yang akan menangani tugas Linda membantu mengedit tanpa dibayar. Ini menjadi kebiasaan walau tidak ada aturan tertulis.


Pada bulan-bulan awal produksi berita sangat lambat. Linda kesulitan mendapatkan tema liputan di Aceh dan sering dibawelin Kang Agus bahkan sampai disuplay tema liputan dari Jakarta via email atau saat menelpon.


Linda tak pernah protes walau dia editor Aceh yang khusus dibayar untuk itu.


Sebagai tenaga freelancer tugas saya membikin berita yang bagus, sumbernya lebih dari tiga, tak ada salah ejaan, terus menulis dengan gaya bertutur. Kantor hanya memodali sebuah voice recorder dan buku catatan untuk liputan. Ongkos liputan, baterai untuk voice recorder, transportasi ditanggung penulis sendiri. Kalau tulisan tidak dimuat saya harus mengikhlaskan duit honor tulisan melayang.


Ini berbeda dengan saat Pantau bikin majalah semua liputan diongkosi, ada pengecek fakta dan seterusnya namun kualitas tulisannya tetap dipertahankan.


Saya sering mengalami hal tersebut, dan kalau ada kesalahan Linda akan ngomel-ngomel tidak produktif, malas dan sebagainya, tanpa mau tahu kesulitan para kontributor. Saya tak pernah mau menanggapi tuduhan tersebut dan hanya mengelus dada sembari berharap dia sadar dan bertanya kenapa?


Selain soal tulisan banyak juga persoalan-persoalan yang ditimbulkan Linda pada awal pembukaan kantor Aceh. Dia pernah mengusir Chik Rini dan mamanya dari kantor Pantau. Rini kontributor majalah Pantau dan asli Aceh. saat itu dia menemani Linda dan membantu mencarikan pembantu buat Linda. Rini dan Ibunya bikin café dan hanya beberapa hari diusir Linda gara-gara asap kompornya masuk ke kamar Linda.


Linda tak pernah bisa menahan emosi, temperamental dan jarang mengoreksi diri. Begitulah kesan saya selama mengenalnya. Dia juga tak pernah minta maaf kalau melakukan kesalahan.


Kesalahan Andreas membiarkan Linda menjadi sewenang-wenang semacam ini. Andreas selalu menutupi kekurangan Linda bahkan kalau Linda tak bikin laporan tahunan Andreas akan membikinkan untuknya, terkadang Eva juga. Ini tak hanya sekali dan yang aneh, sudah tak bikin laporan Linda malah mencak-mencak, katanya, dia editor dan bikin laporan bukan tugasnya. Andreas dan Eva, biasanya, yang direpotkan dengan ulahnya ini.


Sampai sejauh itu masih ada saling kepercayaan antara mereka dan saling tambal sulam kesalahan dan kekurangan.


***


Selasa sore, 2 Juni 2008, Eva Danayanti berhenti menjadi manager Pantau Jakarta. Saya lagi ngobrol dengan Basilius Triharyanto, kontributor Pantau, di kantor Pantau saat Andreas Harsono, Budi Setiyono, masuk ruang kelas yang bersebelahan dengan kantor Pantau. Lantas Eva Danayanti menyusul masuk kelas.


Saya tahu hasil rapat itu memberhentikan Eva setelah dirilis di milis Pantau komunitas. Berita ini sangat mengejutkan dan saya lalu minta penjelasan, pada Eva dan Andreas, apa alasannya? Saya kirim sms ke keduanya.


Eva menjawab, dia masih shock dengan kejadian ini, semua terjadi begitu cepat dan dia belum bisa menjelaskan kenapa. “Mungkin ini yang terbaik, menurut Andreas dan Buset buat Pantau,” tulis Eva di pesan pendeknya.


Tak lama Andreas menelpon saya dan bilang ada perjanjian, antara Eva dan Andreas, untuk tidak menyebarkan alasannya ke luar. Karena menyangkut nama baik orang. Andreas lalu cerita sedang melakukan perbaikan di Pantau; ada audit keuangan, katanya.


Saya bilang ke Andreas kalau Eva orang yang pandai dan masih muda bisa jadi kader yang baik. Andreas bilang ini bukan soal tua muda tapi ini menyangkut orang yang bisa diajak memajukan Pantau. Menurutnya, Eva tidak bisa. Saya makin penasaran.


Di penghujung pembicaraan telepon saya bilang pada Andreas bisa saja dia yang salah dalam mengambil keputusan ini dan dia menjawab kalau misalnya dia yang salah dia akan meminta maaf dan siap menanggung resikonya. Telepon putus.


Saya sedang di rumah AS Dharta, penyair-cum-pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), dengan Budi Setiyono. Saya lantas bertanya pada Buset sebenarnya apa yang sedang terjadi di Pantau? Kenapa Eva sampai diberhentikan?


Buset, yang saat itu sedang mengumpulkan esai-esai AS Dharta untuk dibukukan, menjelaskan kalau banyak keputusan Eva yang tidak sepengetahuan direktur Pantau. Dia lantas membeberkan contohnya; menaikkan gaji tiga kali dalam kurun satu setengah tahun, soal asuransi, membedakan gaji staff Pantau. Komentar penutup Buset bernada pesimistik.


“Ini krisis terberat Pantau, mungkin Pantau akan dibubarkan,” tutur Buset.


Kasus ini kemudian menjadi polemik beberapa orang di milis Pantau. Lima penulis Pantau menolak keputusan ini, selebihnya memilih diam. Penolakan terkeras dilakukan oleh Linda Cristanty. Yang menolak; Samiaji Bintang, kontributor Pantau paling produktif tinggal di Aceh, Widiyanto, kontributor Pantau yang bekerja di PSHK, Rusman, kontributor Pantau bekerja di Jurnal Nasional. Andreas Harsono menanggapi penolakan ini seperlunya.


Kang Agus, sapaan Agus Sopian, yang sudah keluar sebagai pengurus Pantau karena berbeda pendapat soal Pers Kebangsaan, melebarkan persoalkan ke hal-hal yang lebih mendasar menjadi persoalan Pantau. Pendeknya, memang mekanisme kerja dan hirarki di Pantau belum jelas. Kami sama-sama tahu.


Belum lagi tuntas pembicaraan tentang Eva terjadi kegegeran lagi di milis Pantau. Beritanya lebih besar, yakni; pembekuan kantor Pantau Aceh dan Ende. Linda mengawali pembicaraan ini dengan email yang berjudul provokatif, ‘Linda Christanty Menolak Keputusan Board Pantau menutup Pantau Aceh,’ dikirim di milis pada 23 Juli 2008.


Linda menanggapi email dari Andreas Harsono yang sebelumnya menginformasikan penutupan kantor Pantau di Aceh. Pantau dibekukan karena ketiadaan dana untuk melanjutkan program Aceh. Saya mengikuti pembicaraan soal ini dari milis Pantau tanpa berminat untuk menanggapinya, karena; saya tak yakin tahu pasti duduk perkaranya, kapok dimarahi Linda dan khawatir menambah ruwet persoalan.


Lebih jauh, Andreas menjelaskan bahwa ini dilakukan untuk memperbaiki Pantau. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan Andreas Harsono saya percaya pada Andreas adalah orang yang bisa mempertanggungjawabkan keputusannya.


***


Alasan penolakan Pantau adalah ketiadaan duit untuk melanjutkan Pantau Aceh. Polemik kian memanas. Yang bikin panas beberapa orang yang merasa dirugikan dengan penutupan kantor Aceh. Yang paling vokal; Samiaji Bintang, Linda Christanty, Hairul Anwar; ketiganya dari Jakarta. Saya memahami kenapa mereka menuntut demikian. Mereka menuntut transparansi keuangan Pantau dan menolak penutupan ini.


Selama ini, ketiga orang ini, yang diistimewakan di antara kontributor Pantau yang lain. Bintang dan Linda mendapatkan gaji bulanan dan asuransi sedang Arul, sapaan akrab Khairul Anwar, yang didatangkan ke Aceh belakangan baru mendapat Asuransi saja.


Banyak kontibutor Pantau baik yang di Aceh, Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan seterusnya yang tidak mendapat fasilitas istimewa dan tidak seberapa tapi penting ini. Kebanyakan kontributor ini diam saja dan menyimpan dalam hati karena mereka tahu di Pantau memang belum ada mekanisme khusus yang mengatur itu. Kita mengharapkan perbaikan tapi dengan cara yang beradab.


Kalau mau pakai bahasa ekstrim ini ketidakadilan. Hasil dari ketidaktransparanan manajemen yang sama-sama kita tahu. Kenapa saat itu kawan-kawan, yang sekarang menuntut transparansi, tak menuntut hal yang sama? Woi, kemana saja, Bung!


Kita sama-sama tahu jawabannya karena menguntungkan mereka. Mari bersama kita perbaiki ini, sekali lagi, dengan cara yang beradab.


Kebanyakan kontributor yang teraniaya ini diam menyimak menyaksikan polemik ini.


Karena kepentingan untuk mempertahankan gaji dan asuransi ini mereka menjadi tertutup diri dari obyektifitas saat mendudukkan persoalan penutupan ini pada tempatnya.


Pada akhir Juli ini, Andreas membuka semua dokumen yang menjadi dasar penutupan ini mulai dari korespondensi, hasil audit, laporan keuangan Pantau dan seterusnya. Andreas juga menelpon para kontributor baik di Jakarta atau di Aceh untuk menjelaskan hal ini. Tapi kontributor di Aceh kebanyakan menolak untuk dijelaskan. Bagaimana mungkin bisa mendapatkan informasi seimbang kalau menutup diri untuk informasi.


Saya membaca sebagian besar dokumen enam bundel setebal 700 halaman bersampul biru itu. Dan ada banyak hal yang saya tahu dari dokumen ini dan sebagian memang menyangkut nama baik sebagian kawan-kawan Pantau sendiri jadi tidak layak untuk dipublikasikan. Kalau kawan-kawan di Aceh kesulitan untuk membaca dokumen itu karena alasan nggak punya duit untuk ke Jakarta. Saya bersedia mengongkosi kalian semua untuk bisa balik ke Jakarta. Nggak ding, aku kan lagi bokek karena sudah sembilan bulan di skors. Tapi pasti ada jalan keluar kalau kalian sungguh-sungguh ingin tahu.


Saya hanya heran kenapa kawan-kawan reaksioner, tidak rendah hati dan berusaha sekuat tenaga untuk menggali informasi sedalam-dalamnya. Mengapa begitu cepat mengambil keputusan menuduh tanpa klarifikasi.


Sebagai akhir aku ingin mengutip ungkapan dari Mbah Lenin dengan mengganti kata communism dengan Pantau, “Nothing is perfect, Pantau is not perfect, but I choose Pantau.” Maaf kalau ada salah ejaan. (*)

02 August 2008

Re: Membuka Dokumen Yayasan Pantau soal Aceh



Untuk Radityo dan Widiyanto,

Terima kasih untuk komentarnya. Widiyanto meragukan dua isu tak dibahas
dalam pembukaan dokumen-dokumen tersebut. "Sebagai contoh dalam kasus
mundurnya Eva. Itu tidak ada dokumentasi, bukan?" tulisnya.

Saya kira kecurigaan Widiyanto harus dibuktikan dengan melihat dulu
dokumen-dokumen yang kami sediakan untuk dipelajari. Baik kasus mundurnya
Eva Danayanti maupun masalah keuangan bisa dipelajari dari dokumen-dokumen
tersebut. Widiyanto bisa menelusuri posisi keuangan Yayasan Pantau buatan
Rina Erayanti.

Erayanti juga menyediakan diri ditelepon dan diemail. Kami juga akan membuka
hasil audit Arsyad & Rekan bila nanti sudah selesai. Hasil audit ini masih
akan dilengkapi oleh laporan Erayanti hingga 31 Agustus 2008. Artinya, audit
ini dilakukan pihak ketiga yang independen. Sekarang masih berupa draft.
Saya juga sediakan draftnya. Ia bisa dilihat dalam bundel-bundel dokumen.

Usul Radiyo agar satu set dokumen itu dikirim ke Aceh saya kira usul bagus.
Saya sedang berpikir kepada siapa dokumen itu dikirimkan agar yang
bersangkutan bersedia membuka dokumen-dokumen ini kepada siapa pun yang
berkehendak menyediakan waktu dan pikiran guna mempelajarinya. Terima kasih.



--
Andreas Harsono
Pantau
Jalan Raya Kebayoran Lama 18 CD
Jakarta 12220
Tel. +62 21 7221031 Fax. +62 21 7221055
Website www.pantau.or.id
Weblog www.andreasharsono.blogspot.com

Kenapa Pantau Menelan Pil Pahit yang Kedua?



Bung Basilius Triharyanto yang baik,

Terima kasih nama saya Anda sebut kembali di file PANTAU. Sekadar info, saya pernah menerima surat pemecatan sebagai pendiri PANTAU. Jika ada pihak yang paham arti kata pendiri yayasan, apakah sosok pendiri bisa dipecat sepihak?

Kala rapat yang Anda deskripsikan, saya memang emosional, karena kesalahan seakan ditumpahkan kepada batang hidung saya sendiri. Harus ada kambing hitam untuk sebuah kegagalan, dan tumpahan itu kepada saya.

Agar saya tak "kalap" saya menghindar dari rapat, juga bukan tak bertanggung jawab, tetapi membiarkan masalah dingin, untuk kemudian bisa dibicarakan lagi (karena saya menganut pandang hampir semua masalah bisa seharusnya dibahas untuk diselesaikan). Tetapi yang terjadi, saya malah dipecat sebagai pendiri, surat masih saya simpan.

Sekadar informasi, akuntan PANTAU, Arifin Washar, di saat saya menjadi pemimpin perusahaan, karena porto folio dan kejujurunnya teruji, kini terbukti bisa bekerja kembali di Blue Bird (kantor lamanya sebelum PANTAU), bahkan sudah menjadi senior auditor kembali.

Dari Arifin, saya mendapatkan koreksi, bahwa memang ada dana PANTAU untuk pribadi yang saya pakai; dalam bentuk pembelian PDA O2 (yang sudah dikembalikan ke PANTAU, juga pinjaman, yang hingga kini masih saya diamkan, faktornya: Lebih karena menanggung nasib kambing hitam, "penghancuran" karakter saya, plus pemecatan sebagai pendiri Yayasan Pantau).

Jauh di kemudian hari, di sebuah toko buah yang habis terbakar, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kira-kira dua tahun lalu, tidak sengaja saya melihat Andreas. Saya menggendong anak ketiga kami yang masih bayi. Saya sapa Andreas, dan mengatakan, kapan ada waktu untuk kembali bertemu.

Andreas tampak ramah.

Pertemuan selanjutnya belum pernah terjadi.

Saya kiri-kanan memperjuangkan kembali semangat yang, tentu, bukan membawa branding PANTAU (toh sudah dipecat itu?!). Belakangan saya menemukan ceruk, langgam jurnalisme SKETSA (setelah dibaca oleh Amarzan Loebis, TEMPO, ia menjuluki penulisan yang belakangan saya kembangkan bergaya sketsa), sebagaimana rutin saya tulis di www.presstalk.info. Hingga hari ini saya sangat senang menghimbau reporter menulis secara literair, juga mensosialisasikan menulis macam di The New Yorker, sebagaimana sering di-uarkan Andreas.

Dari jauh saya bangga kepada PANTAU, yang sudah merambah Aceh, Ende dan beragam kegiatannya yang terus berjalan.

Saya hanya heran kemudian, pertama, Agus Sopian mundur dan menulis panjang di milis ini. Kedua, kemudian datang lagi urusan Linda Christanty, tentang program Aceh, yang ditutup, dan minta pertanggung-jawaban Andreas.

Saya tak ingin berkomentar apa-apa, karena saya sudah tak paham masalahnya.

Saya hanya ingin mengucapkan salam dari jauh: dari lubuk hati yang paling dalam, saya mencintai kalian semua, terhadap idealisme pers yang kalian perjuangkan - - apalagi kini, seharusnya, di saat citra keterwakilan pers Indonesia, macam yang diterima Presiden di istana adalah PWI? misalnya, dan kita tahu bagaimana kiprah PWI, termasuk indikasi banyak menerima dana APBD, dan banyak langgam lain, yang bisa menjadi diskusi tersendiri.

Tahun lalu saya dipercaya menjadi Ketua Umum Koornas PWI-Reformasi. Hingga kini juga belum bisa berbuat banyak, karena masih harus terfokus "mempertanggung-jawabkan" kata reformasi, dalam tatanan karya.

Secara pribadi, saya sangat percaya, hampir tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan antar sesama manusia di jagad ini. Jika saja, himbauan Bill Kovach, yang juga sering diucapkan oleh Andreas, agar setiap wartawan rendah hati, dapat diterapkan dalam laku sehari-hari, akan lain jadinya.

Dari Amarzan Loebis, yang banyak dianggap kawan-kawan sebagai suhu, saya mendapatkan pemahaman, bahwa tak ada penulis nomor satu, yang ada penulis kelas dua - - bentuk lain idiom kerendah-hatian.

Dalam konteks PANTAU, jika semua insannya menganut paham rendah hati, tidak merasa menang sendiri, yang lain salah, yang benar diri yang membenarkan sendiri, maka seharusnya akan indah dan damai dirasa.

Saya sepemahaman dengan beberapa posting di milis ini, urusan manajemen PANTAU, mbok ya dibuat milis sendiri, kenapa milis komunitas misalnya tidak mendiskusikan tulisan, misalnya, BANTAILAH tulisan saya di: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=131, yang pernah dilaporkan Alvin Lie ke polisi, atau ujilah misalnya tulisan: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=150, literair atau tidak (atau dalam istilah PANTAU sastrawi/naratif atau tidak?)

Milis ini akan lebih bermartabat bila bicara topik-topik menulis, termasuk urusan "bertanding" menulis, dalam artian positif, untuk lebih berbuat bagi dunia jurnalistik Indonesia yang harus berpihak kepada warga, dijauhkan dari kooptasi kepentingan uang dan politik.

Wah, maaf kepanjangan, akibat lama cuma jadi pembaca.

wassalam,
narliswandi piliang/iwan piliang

01 August 2008

Re: Penjelasan soal Pembekuan Sementara Pantau Aceh



Hitung2 blajar transparansi dihadapan publik gpp kan, karena pengejawantahan transparansi tidak segampang yang sering kita dengar di panggung2 diskusi yang sepertinya sangat indah pengucapannya.

apalagi sekarang kan lagi musim kampanye baik yang ingin jadi presiden, agt dpr/dpd or menteri

atas nama pembelajaran dan pencerahan mari kita sama-sama belajar, apalai PANTAU kan sangat memiliki nama yg baik dalam bidang jurnalistik

salam

Membuka Dokumen Yayasan Pantau soal Aceh



Dengan hormat,

Sejak kemarin sore kami menyediakan dua set dokumen, total sekitar 700
halaman, yang berisi macam-macam data soal program Yayasan Pantau di Banda
Aceh.

Board Yayasan Pantau mempersilahkan siapa pun, yang mau serius mempelajari
masalah ini, membacanya di tempat kami. Kami tak bisa mengirim semua dokumen
ini lewat mailing list. Secara teknis kami tak bisa mengirim attachment
besar. Yahoo membatasi memory attachment. Dokumen-dokumen ini juga
makan waktu bila harus di-scan satu demi satu.

Sebaliknya, kami juga sadar tidak setiap orang mau direpotkan dengan
menyediakan waktu guna mempelajari masalah ini. Namun dokumen-dokumen ini
penting untuk mereka yang mau menyediakan waktu dan tenaga guna
mendalaminya.

Anda tinggal datang ke kantor dan menghubungi Khoiruddin. Masing-masign set
terdiri enam bundel. Mas Udin akan mempersilahkan Anda duduk dan membaca
semuanya. Kami memperkirakan dua bundel cukup.

Mempelajari dokumen-dokumen ini mungkin sedikit rumit mengingat audit dari Arsyad & Rekan belum final. Namun kami sertakan draft audit dari Arsyad & Rekan. Terima kasih.


--
Andreas Harsono
Pantau
Jalan Raya Kebayoran Lama 18 CD
Jakarta 12220
Tel. +62 21 7221031 Fax. +62 21 7221055
Website www.pantau.or.id
Weblog www.andreasharsono.blogspot.com

Re: Membuka Dokumen Yayasan Pantau soal Aceh



Mas Andreas yb

Maaf nih, sekadar saran saja. Kalau bisa dokumen tersebut difotocopy, lalu dikirim 1 set ke Banda Aceh, biar teman-teman di sana bisa menyimaknya.


Salam,


Radityo

Kenapa Pantau Menelan Pil Pahit yang Kedua?



Kenapa Pantau Menelan Pil Pahit yang Kedua?





Gedung Trust di Jalan Arteri Iskandar Muda, 29 Maret 2004. Sekitar pukul 14.00, sepuluh kru Pantau berkumpul di ruang rapat, yang luasnya sekitar 5x6 meter.



Andreas Harsono, Agus Sopian, Budi Setiyono, Indarwati Aminuddin, Narliswandi Piliang hadir, semuanya pendiri Yayasan Pantau. Coen Husain Pontoh, Titarubi, Esti Wahyuni, Purwoto, Pak Ferdinand Wewengkang dari manajemen Trust, turut bergabung dalam rapat itu, termasuk saya.



Ruang ber-ac, ukuran sekitar 5x6 meter, nampak sempit. Tak semuanya bisa duduk di kursi yang merapat ke sebuah meja. Narliswandi dan Coen berdiri di depan papan tulis berwarna putih. Karena tak ada kursi lagi, saya duduk pada sebuah troly biru yang biasa dipakai untuk mengangkut majalah Trust, kadang juga dipakai untuk majalah Pantau.



Ini bukan rapat biasa. Ketegangan-ketegangan sudah terpancar pada wajah-wajah mereka sebelum rapat dimulai. Sejak di awal rapat, ruangan itu sudah terisi oleh suara-suara bernada keras dan tinggi. Dalam waktu singkat, debat sengit dalam rapat itu pun pecah.



Andreas Harsono, juga Budi Setiyono, melontarkan sejumlah pertanyaan kepada Narliswandi Piliang, tentang lenyapnya uang yang dipakai untuk menerbitkan majalah Pantau. Uang telah bocor ketika edisi keempat, Maret 2004, akan terbit.



Pertanyaan dan pendapat itu dapat jawaban yang keras dan emosional. Narliswandi, berulang kali dengan wajah memerah, menuding-nudingkan jarinya ke arah Andreas, Budi, dan teman-teman lainnya.



Coen berdiri bersebelahan dengan Narliswandi. Ia turut berbicara, menengahi perdebatan sengit itu. Meski suaranya sedikit terbawa bernada tinggi, namun tetap terkontrol, ia meredakan perdebatan itu. Ia berulangkali mendinginkan, “dengan kawan bicara baik-baiklah,” kurang lebih yang saya ingat demikian.



Agus Sopian, saya lihat lebih berada di luar ruangan. Ia menghisap rokok di dekat jendela, dekat lift. Wajahnya nampak serius, memikirkan gejolak Pantau, yang sedang mendidih di ruang rapat itu.



Saya ingat, dia kecewa ketika rapat molor, menunggu Narliswandi. Ia menunjukkan tiket kereta api yang telah dibelinya telah hangus. Demi Pantau, ia merelakan tiket itu.



Titarubi saat itu tak banyak bicara. Ia saya lihat berperan sebagai mediasi pertemuan Narliswandi dan Kru Pantau lainnya. Esti Wahyuni nampak banyak bicara, berulang kali ia ingin mendudukan perkara supaya debat kusir dihentikan.



Saya sendiri tetap di troly biru, mendengarkan dan mengikuti rapat itu. Ketika rapat tak kondusif lagi, Narliswandi melontarkan ancaman-ancaman, yang diucapkan sangat emosional dan keras, saya keluar dari ruangan itu. Saya duduk, kadang berdiri, mendengarkan dari balik dinding dan pintu.



Rapat bubar jam 8 malam. Hari itu keletihan saya sempurna. Ini hari pertama menginjakkan kaki di kota Jakarta. Usai kereta api berhenti di stasiun Jatinegara, tak ada waktu istirahat lagi. Hari pertama saya di Pantau menikmati suasana kekacauan.



Usai rapat itu, hari-hari saya menghadapi keterpurukan Pantau. Saya bekerja bersama Indarwati dengan 2 komputer dan tempat kerja kami terletak diantara “jalan umum” ruangan manajemen Trust. Hilir mudik para pekerja Trust saat kami bekerja jadi situasi yang biasa. “Serba tak enak” itu biasa. Saya dan Indar, juga Purwoto-sirkulasi Pantau, mengalami rasa tak enak itu. Kami menerima tumpahan-tumpahan tak enak itu, maklum, kami seperti penumpang saja di kantor itu.



“Baru beberapa minggu saya ngantor di Pantau, suasana sangat tidak mengenakkan. Saya lihat Pantau dalam kondisi terpuruk, sangat terpuruk. Pantau, dalam otak saya, terisi orang-orang hebat dan berkualitas. Itu alasan kenapa saya ingin belajar menulis dan menjadi wartawan yang baik. Maka, ketika kuliah saya mengharuskan Kuliah Kerja Lapangan, saya pun memilih Pantau, sebagai tempat KKL atau magang itu.” Saya menuliskan ini dalam laporan Kuliah Kerja Lapangan, untuk jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Atma Jaya Yogyakarta.



Saya tahu Pantau sudah tak terbit lagi. Andreas mewanti-wanti sejak pertama saya kirim email kepadanya. Namun, buat saya Pantau telah memikat. Saya tak mengurungkan niat itu.



Pada laporan di halaman 4, saya menulisnya, “ditengah kondisi itu, saya telah mengirimkan proposal kuliah kerja lapangan. Pantau menerima. Saya berangkat dengan pikiran agak bimbang. Dan sebagian orang menyebut “edan”, belajar di majalah yang tidak terbit lagi. Saya memasuki Pantau yang masih menyisakan geliatnya. Dan saya belajar ketika Pantau sedang bekerja keras menghidupkan kembali. Saya belajar saat Pantau didera kecewa, sedih, dan ironi.”



Sejak itu, selama 34 hari di Pantau, saya belajar dan sekaligus menyaksikan tindakan ketidakjujuran yang telah menjatuhkan Pantau. Persoalan bocornya keuangan menyebabkan majalah Pantau tak terbit lagi untuk yang kedua kalinya. Namun, lebih dalam lagi, saya menyaksikan dan turut mengalami orang-orang yang didera kehancuran, kesepian, karena menjadi korban tindakan mementingkan ambisi dan kepentingan diri sendiri. Proyek idealisme yang dibangun bersama, dari keringat bersama, hancur oleh tindakan segelintir anggotanya.



Dalam kebimbangan dan kesepian, karena dapur redaksi tak hidup, saya, Indar, Purwoto, Andreas, Buset, masih menunjukkan geliat idealisme. Kami masih mengadakan diskusi bulanan, atau dua mingguan. Perbincangan soal media dan jurnalisme tetap berjalan. Saya sempat memeriksa naskah para kontributor yang diterbitkan dalam buku Antologi Jurnalisme Sastrawi.

Saat itu, orang-orang Pantau mengalami kepahitan. Ada yang mencari pekerjaan lain, ada juga yang meratapi tanpa punya pekerjaan selama beberapa bulan. Dan, akhirnya saya belajar banyak kepada orang-orang yang tetap bertahan di saat-saat kejatuhan Pantau. Orang-orang tak pergi atau meninggalkan saat Pantau terkulai. Andreas Harsono, Agus Sopian, Budi Setiyono, Indarwati, tetap bangkit lagi.



Pergulatan Pantau belumlah selesai. Setahun terakhir, beberapa “pendiri” Pantau gelombang kedua, meninggalkannya. Sejak 2003, Pantau split dari Utan Kayu, markas pendiri pertama, Goenawan Mohamad dan kawan-kawan. Tahun 2005, Indar kerja di Kendari. Pekerjaan sebagai bendara board tak bisa dilakukan maksimal karena jarak yang jauh. Dan, ia baru saja mengirim surat mengundurkan diri, ketika Pantau bergejolak lagi. Narliswandi diberhentikan dari Yayasan Pantau tanpa selembar berita acara. Tahun 2007, Sopian mundur.



Kini, sebuah program yang dibangun oleh Pantau menjadi pertaruhan kembali. Kantor Berita Feature Pantau Aceh yang berjalan sekitar tiga tahun didera oleh ambisi segelintir orang.



Persoalan keuangan kembali menghentikan program itu. Dan, lebih menyedihkan lagi, ambisi pribadi, ketidakjujuran, menjadi nahkoda kapal Pantau. Dan, Pantau yang dibangun kembali selama kurang lebih tiga tahun, akhirnya terjatuh lagi.



Saya pun memutar rekaman ingatan ketika Pantau berkantor di Jalan Arteri Iskandar Muda, yang letaknya sekitar 1 kilometer ke kantor Pantau saat ini, di Jalan Kebayoran Lama 18 CD.



Saya ikut menelan pil pahit Pantau, untuk kedua kali. Lebih pahit dari yang pertama karena pemberi pil pahit itu berada dalam kantor, yang juga menjadi tempat saya bekerja.



Saya kecewa, di Pantau berisi orang-orang yang tak mengerti sejarah pahit itu, bahkan yang mengerti pun telah melupakannya, bahwa Pantau dibangun dari garis perjuangan.



Apa pun alasannya, orang-orang yang merusak perjuangan itu dengan ambisi pribadi, dan yang mendukung praktik-praktik ketidakjujuran, terlebih diskriminasi diantara kawan-kawannya sendiri, sebaiknya tahu diri, bahwa Pantau bukanlah tempat yang tepat untuk itu.



Salam,

Basilius Triharyanto

Kenapa Pantau Menelan Pil Pahit yang Kedua?



Temans...

Kebangggan dan idealisme saja ternyata tidak cukup.

Awalnya, alasan itulah yang mendasari saya melamar untuk pergi menjadi kontributor Pantau Aceh, akhir 2007.

Perasaan saya bungah setelah terpilih. Rasa ini mengalahkan rasionalitas saya bahwa Yayasan Pantau tidak menyediakan kontrak kerja atau jaminan apapun. Di Aceh, saya membiayai hidup dari honor menulis dari Pantau Aceh. Pakemnya sederhana: Kalau menulis ya makan, kalau tidak menulis ya tidak makan. (sekali lagi, demi alasan kebanggaan tadi mengalahkan rasionalitas saya)

Fasilitas yang disediakan Yayasan Pantau hanya tiket pulang pergi gratis Aceh-Jakarta 3 kali setahun. Itupun, jatah tiket saya terakhir yang rencanannya untuk pulang lebaran nanti (gara-gara penutupan Pantau Aceh) hangus!

Saya sering mendengar kegagalan-kegagalan Pantau di masa lalu. Tentu
dari versi yang berbeda-beda. Mungkin, itu maksudnya untuk menyadarkan agar saya berfikir rasional berangkat ke Aceh.

Penutupan kantor berita Feature Pantau Aceh, menurut saya, adalah klimaks dari cerita-cerita kegagalan Pantau di masa lalu. Semua itu hancur oleh keserakahan Pantau Jakarta!

Program Aceh dijual ke donor dan uangnya lebih banyak digunakan Pantau Jakarta. ( Ini tak ubahnya praktek politik hisap ala otoriter Soeharto: menghisap daerah-daerah untuk memperkaya Jakarta).

Seorang teman bilang ke saya bahwa sebuah organisasi akan hancur bila dikendalikan oleh satu orang. Apalagi jika ia dijalanakan oleh kekuasaan tanpa kontrol dan cara memimpin yang keras kepala. Muara semua itu melahirkan potensi pemimpin yang korup.

Pascapenutupan Pantau Aceh, tak ada lagi yang tersisa di Pantau. Tak ada lagi yang dibanggakan.

Saleum dari Aceh

Hairul Anwar

Re: Membuka Dokumen Yayasan Pantau soal Aceh



Plaxo- ku mengingatkan bahwa Andreas Harsono berulang tahun pada tanggal 7
Agustus, semoga konflik di Pantau bisa berakhir secara wajar dan profesional.

"Semua pasti punya hak dan kewajibannya sendiri-sendiri tanpa maksud melebih-
lebihi dan mengurang-ngurangi hak dan kewajibanya, baik hak yang berada di
Aceh dan yang berada di Jakarta".

Bagi saya Andreas dan Linda Ch adalah orang-orang yang perlu di perhitungkan
dan punya "jasa" yang besar di dunia Jurnalistik apalagi Linda dia punya
kelebihan di dunia seni semoga bisa saling melengkapi. Kapan membuat Karya
tulis bermutu lagi, semoga konflik di pantau bukan bahan yang baik sebagai
bahan perenungan dan tulisanmu selanjutnya. Linda si Mario Ponto.

Salam dari Jakarta
Rury

Membuka Dokumen Yayasan Pantau soal Aceh


Dh,

Sejak 3 Juli 2008 saya resmi mengundurkan diri dari bagian keuangan Yayasan Pantau, karena masih banyaknya pekerjaan yang harus saya selesaikan dan belum ada staf yang menggantikan pekerjaan saya maka efektif saya baru berhenti bekerja per 31 Juli 2008. Saya bekerja sebagai staf keuangan sejak 30 Januari 2006.

Sebagai tambahan informasi dari Andreas Harsono, kalau rekan-rekan juga membutuhkan informasi yang lebih berimbang tentang keuangan Yayasan Pantau juga dapat menghubungi saya secara pribadi baik melalui email rina_erayanti@yahoo.com ataupun handphone 0813 99 180681.

Tidak ada masalah bagi saya kalau kasus ini harus diselesaikan melalui jalur hukum, bagi saya lebih baik saya dipenjara karena melakukan kesalahan dari pada seumur hidup harus di fitnah.


Hormat saya,

Rina Erayanti