06 August 2008

Re: [pantau-kontributor] Menghentikan Posting



Mas Buset yg tercinta,

Terimakasih sudah menegur dan mengingatkan saya. Ingin rasanya bisa jumpa dan diskusi lagi dengan mas. Atau sekadar bermain karambol. Meski jarak lumayan jauh dan Pantau sudah menyatakan putus hubungan kerja saya, rasanya hubungan teman bisa tetap cair dengan bermain karambol.

Mas Buset.

Saya kira saya tak sedang berteriak atau marah-marah. Kalau bertanya dan menggugat, nah ini lebih pas. Toh, apa salahnya untuk sekadar bertanya, Mas? Soal menggugat, apa itu tidak wajar wong tiba2 di-PHK sementara kontrak kerja tidak pernah ada? Saya pernah menagih soal kontrak kerja ini pada Mas Andreas Harsono sebagai kordinator program Aceh dan direktur eksekutif Pantau. Ia malah menyuruh saya untuk membuat kontrak kerja sendiri. Kira2, menurut dirimu ini benar nggak?

Mas Buset.

Saya malah makin penasaran, apa yg Mas maksud "bukan cara kita"? Dan seperti apa itu yg "cara kita"?

"Pembekuan PROGRAM PANTAU di Aceh tentu menghenyak perasaan kita. Tapi itu bukan akhir dari segalanya."

Mas, saya mau klarifikasi, pembekuan itu bukan cuma menghenyak perasaan kita, saya dan Mas. Tapi seluruh kontributor, terutama yg ada di Aceh sebagai dasar program ini dilakukan.

"Atau kau bisa menunggu pemberitahuan resmi itu datang, langkah-langkah stategis untuk mengatasi masalah ini diambil."

Saya justru bertanya, mengapa Mas dan forum board tidak menunggu kehadiran Mbak Linda Christanty atau wakil dari Aceh? Menurut saya itu bukan cara yg cukup bijak. Bukankah itu gaya manajemen sentralistik yg justru banyak dipakai di media2 Indopahit yg kerap dikritik Mas Andreas Harsono, Mas? Kalau mau bicara maju-mundurnya program Aceh, sewajarnya ya mengundang dan mendengarkan penjelasan orang2 yg bekerja langsung dan jumpalitan di medan Aceh. Itulah yg menurutku cara yg baik, Mas. Apalagi sampai menerbitkan kebijakan penting menyangkut program yg hampir tiga tahun berjalan.

"Mari turun dari geladak kapal. Kapal ini sudah oleng, bisa karam kalau kita tak menambal bolong-bolong itu. Aku yakin kau tak ingin kapal ini terbenam di dasar laut."

Betul, Mas!! Aku juga sama sekali tidak ingin kapal ini tenggelam. Tapi kalau bolong-bolongnya parah, sebaiknya tak perlu lagi ditambal. Langkah yg paling baik adalah lompat, cari sekoci, dan segera menumpang ke kapal lain. Bahtera ini kan luas, Mas.

"Aku yakin kau ingin kapal ini, Pantau, bisa berlayar lagi menuju lautan jurnalisme yang bermutu."

Untuk yg ini kau memang tak salah, Mas. Jurnalisme yg bermutu adalah yg mensucikan FAKTA dan metodenya verifikasi. Bukan yg berdasarkan "FEELING" loh... O iya, saya sudah mendengar rekaman pembicaraan rapat board tanggal 24 Juni lalu yg membahas soal Eva Danayanti. Mas juga di situ hadir, kan? Sunggur aneh, di luar kita usung jargon FAKTA dan VERIFIKASI sementara di dalam kita mendasarkan pada FEELING dan FITNAH. Apa kata para "Tetangga", Mas? Apa mereka tak akan lebih terusik?

"... aku mengambil jalan yang pasti tak kau sukai: MENGHENTIKAN POSTING MENGENAI "KERIUHAN" DI PANTAU." Silakan, Mas. Toh, itu tentu tak lebih sulit untuk membekukan aktivitas saya dan teman kontributor2 muda yg bekerja untuk program di Aceh.

Mas Buset.

Terimakasih untuk menunggu saya di Jakarta. Tapi, sekarang Alhamdulillah saya sudah berkeluarga. Ada istri, tak elok lah Mas. Kecuali tujuannya sekedar bermain karambol. Hehehehe....

salam hangat dari Aceh,

bintang.

No comments: