01 August 2008

Kenapa Pantau Menelan Pil Pahit yang Kedua?



Temans...

Kebangggan dan idealisme saja ternyata tidak cukup.

Awalnya, alasan itulah yang mendasari saya melamar untuk pergi menjadi kontributor Pantau Aceh, akhir 2007.

Perasaan saya bungah setelah terpilih. Rasa ini mengalahkan rasionalitas saya bahwa Yayasan Pantau tidak menyediakan kontrak kerja atau jaminan apapun. Di Aceh, saya membiayai hidup dari honor menulis dari Pantau Aceh. Pakemnya sederhana: Kalau menulis ya makan, kalau tidak menulis ya tidak makan. (sekali lagi, demi alasan kebanggaan tadi mengalahkan rasionalitas saya)

Fasilitas yang disediakan Yayasan Pantau hanya tiket pulang pergi gratis Aceh-Jakarta 3 kali setahun. Itupun, jatah tiket saya terakhir yang rencanannya untuk pulang lebaran nanti (gara-gara penutupan Pantau Aceh) hangus!

Saya sering mendengar kegagalan-kegagalan Pantau di masa lalu. Tentu
dari versi yang berbeda-beda. Mungkin, itu maksudnya untuk menyadarkan agar saya berfikir rasional berangkat ke Aceh.

Penutupan kantor berita Feature Pantau Aceh, menurut saya, adalah klimaks dari cerita-cerita kegagalan Pantau di masa lalu. Semua itu hancur oleh keserakahan Pantau Jakarta!

Program Aceh dijual ke donor dan uangnya lebih banyak digunakan Pantau Jakarta. ( Ini tak ubahnya praktek politik hisap ala otoriter Soeharto: menghisap daerah-daerah untuk memperkaya Jakarta).

Seorang teman bilang ke saya bahwa sebuah organisasi akan hancur bila dikendalikan oleh satu orang. Apalagi jika ia dijalanakan oleh kekuasaan tanpa kontrol dan cara memimpin yang keras kepala. Muara semua itu melahirkan potensi pemimpin yang korup.

Pascapenutupan Pantau Aceh, tak ada lagi yang tersisa di Pantau. Tak ada lagi yang dibanggakan.

Saleum dari Aceh

Hairul Anwar

No comments: