From:
"siti nurrofiqoh"
View contact details
To:
"Linda Christanty"
Cc:
"Artine.Utomo@tpi.tv"
Buat Mbak Linda,
Langsung saja. Saya mau meminta penjelasan soal tuduhan Mbak Linda terhadap saya, yang dalam email Mbak Linda menyebutkan bahwa saya mengatakan saya mengaku diminta Andreas Harsono untuk memata-matai staf Pantau.
Mbak Linda juga mengarang cerita, dalam email yang Mbak tulis, dan lagi-lagi menyebut nama saya dengan kalimat: “Fiqoh juga mengatakan bahwa dia ditelpon oleh Yusriyanti Pontodjaf, yang diminta Sapariah Saturi untuk menyelidiki apa yang terjadi di Pantau.”
Tolong jelaskan, kapan dan di mana saya melakukan itu. Kok bisa ya, Mbak Linda berkata begitu? Bukankah waktu itu Mbak Linda berada di Balikpapan bersama Dyah Ayu Pratiwi (Dayu) dan Mas Andreas?
Masih soal gosip mata-mata, kemarin pada hari Jumat, tanggal 16 Mei 2008, sekitar jam 16.00 wib, ketika Mas Andreas meminta pendapat Rina Erayanti (Tinti) tentang pernyataan Mbak Linda, yang menuduh saya sebagai mata-mata, di depan saya dan Mas Andreas, Tinti mengatakan Mbak Linda yang menuduh Mbak Fiqoh mata-mata.
Saya tidak pernah mengatakan ada rapat gelap. Jangankan bilang rapat gelap, bahkan dalam rapat terang-terangan saja, ketika Eva Danayanti berbohong secara mentah-mentah, saya tidak berani membantah. Peristiwa itu terjadi pada salah satu rapat mingguan Pantau. Ketika rapat membahas soal narasi, dan Mas Andreas bertanya perkembangannya kepada saya, Eva langsung menjawab dan mengatakan kepada Mas Andreas bahwa saya bosan mengurusi kursus narasi, sehingga saya minta pindah. Saat itu juga saya dipindah untuk menangani kursus jurnalisme sastrawi, yang sebelumnya ditangani oleh Dayu. Sebaliknya, Dayu juga langsung disuruh menangani kursus narasi. Saya tidak pernah dikonfimirmasi soal rencana pengalihan itu, dan tidak pernah bilang minta pindah. Saya justru terkejut, mendengar keputusan itu di rapat.
Rapat setuju dengan usul pergantian itu. Terus terang, saya merasa nggak enak dan merasa difitnah Eva. Tapi saya tidak ingin membuat Eva malu pada waktu itu. Makanya saya diam. Saya hanya menatapnya heran. Kok sebagai atasan saya, dia telah melakukan kebohongan dengan ringan sekali di dalam rapat resmi.
Terhadap pernyataan saya ini, saya siap dikonfrontir di hadapan Board Pantau atau pihak yang berwajib. Bila perlu, Pantau menyewa mesin pendeteksi kebohongan supaya fair. Saya siap.
Soal mata-mata. Awalnya saya tidak tahu apa-apa. Saking tidak tahunya, ketika Mbak Linda mengirimkan beberapa SMS ke HP saya, saya malah bingung. Saya masih simpan beberapa SMS tersebut. Isinya sebagai berikut:
“Mbak Fiqoh, sebenarnnya ada masalah keuangan macam apa sih di Pantau, sehingga Rina diancam pecat?” (SMS Terkirim: 09:57: Tgl 20/04/2008)
Saya menjawab tidak tahu (Saya benar-benar tidak tahu. Karena di dalam rapat pun, Mas Adnreas tidak membahasnya, kecuali hanya sebatas memberi informasi bahwa di Pantau sedang membenahi sistem keaungan. Bahkan ketika saya berenang di apartemen Mas Andreas malam-malam, ia hanya mengatakan bahwa sistem keuangan di Pantau sedang dibenahi. Dan itu sangat menguras energinya. Dan saat saya tanya ada apa dengan masalah keuangan, Mas Andreas menolak menerangkan dan menjawab, “Lebih baik kamu tidak tahu”.)
“Masa’? Bukankah dg ketajaman telinga Mbak Fiqoh yg pernah diungkapkan pdku dulu bisa tahu segalanya?” (SMS Terkirim: 11:17:32 Tgl 20/04/2008)
“Apakah Mbak Fiqoh pernah dibikinkan kontrak kerja oleh Pantau, dg penjelasan ttg tugas2 yg perlu dilakukan? Siapa yg mengarahkan kerja Mbak Fiqoh selama ini? Bgmana mekanisme pengajuan dana program di Pantau Jkt selama ini? Siapa manajer kantor?” (SMS Terkirim: 12:11:59 Tgl 20/04/2008)
“Tugas Mbak Fiqoh apa dan di bagian mana?” (SMS Terkirim: 12:12:32 Tgl 20/04/2008)
“Tapi Eva sudah nggak jadi manajer lagi, tapi dialihkan ke program sekarang. Manajer vakum. Aku mau mengajukan diri jd manajer, tapi pasti ditolak” (SMS Terkirim: 12:28:20 Tgl 20/04/2008)
"Pantau ini seperti hutan. lebih baik mulai sekrg jgn lg merekrut org, tapi bengkarung, trenggiling, monyet, dan biawak aja. Trims, Mbak Fiqoh." (SMS Terkirim: 12:37:08 Tgl 20/04/2008)
“Mbak Fiqoh, selain Buset, siapa lagi propokator Mas Andreas utk urusan keuangan ? Aku ingin tahu siapa orang2 yg sering memancing2 di air keruh. Kalau ketahuan sm aku, pasti kulabrak langsung n kuumumkan di milis2, spy mereka itu tdk diterima kerja di manapun. Tlg Mbak Fiqoh selidiki n pasti Mbak Fiqoh tau.” (SMS Terkirim 21/04/08/07:41)
Kalau saya baca-baca lagi SMS Mbak Linda, bukankah Mbak Linda sendiri yang minta saya “selidiki” keadaan masalah keuangan di kantor Pantau? Bukankah ini termasuk pekerjaan mata-mata? Kalau saya sekarang dituduh jadi mata-mata, satu-satunya orang yang pernah minta saya menjadi mata-mata adalah Mbak Linda sendiri.
Sebelumnya ada beberapa SMS tapi saya hapus. Isinya tanya-jawab soal “mata-mata” di pabrik. Mbak Linda tanya bagaimana pendapat saya kalau majikan saya minta saya jadi mata-mata? Itu memang sering saya alamai di pabrik-pabrik. Di mana perjuangan serikat buruh yang saya pimpn (Serikat Buruh Bangkit) dipatahkan juga oleh serikat buruh lain. Bahkan buruh-buruh kontrak menjadi mata-mata bagi aktifitas pengurus serikat buruh (SBB) yang sedang memperjuangkan hak-hak buruh. Saya tidak berpikir macam-macam. Saya jawab saya tidak suka ada mata-mata. Saya akan lihat dulu si buruh itu pecundang atau pejuang?
Beberapa hari kemudian, 21 April 2008, ketika Mbak Linda masih di Balikpapan, dia mengirimkan sms-sms seperti yang tersebut di atas. Karena saya merasa bingung, saya menunjukkan SMS Mbak Linda kepada Rina.
Saya bilang begini, “Tin, coba deh kamu lihat nih. Kok Mbak Linda SMS begini ya…? Kok soal provokator-provokator. Kok dia juga bilang bahwa aku pasti tahu. Emang apa maksdunya ya? Aku tahu apa? Masalahnya kan soal system keuangan. Itupun aku nggak tahu persisnya seperti apa. Setahuku kalau sistem keuangan, ya soal angka-angka. Kok jadi ke provokator-provokator?”
Di situlah Rina langsung menjawab “Mbak Fiqoh” itu nggak usah pura-pura nggak tahu gitu. Rina mengatakan ini awalnya masalah bulan Januari, yang Mas Anndreas mau minta naik gaji. Dia mengatakan saya pasti tahu karena di kantor tidak ada kamera tersembunyi.
Dan Tinti menjawab lagi, coba pikir aja! Masak Mas Andreas tahu kalau saya meminjam rekaman Mbak Fiqoh untuk merekam pembicaraan dengan Mbak Eva di telpon? Di kantor ini kan hanya ada empat orang. Saya, Dayu, Mas Udin dan Mbak Fiqoh. Saya sudah tanya, Dayu nggak bilang, Mbak Eva apa lagi?! Masak Basil yang bilang? Siapa lagi kalau bukan Mbak Fiqoh! Udahlah, saya kecewa, saya sudah tahu sampai dimana kadar "Mbak Fiqoh". Rina mengatakan itu dengan nada tinggi.
Untung Rina mennyebut kata-kata rekaman. Jadi saya baru ngeh. Ini ternyata soal rekaman pembicaraan telepon antara Eva, ketika dia ada di Ende, dan Rina di Jakarta. Lalu saya pun menjelaskan ke Rina begini, “Oalah… itu toh. Kenapa kamu selama ini ga tanya ke saya? Kamu tanya sama Dayu, sama Eva, kenapa kamu tidak tanya sama aku? Kalau kamu tanya pasti aku jawab, kalau aku memang pernah bilang itu ke Mbak Yus, ketika ada kelas Samuel Mulia di narasi. Waktu itu kan Mbak Yus datang, sekalian dia ambil uang kosan rumah dia yang di Tangerang. Sambil jalan Mbak Yus tanya sama aku, di Pantau sedang ada masalah system keuangan ya.
Saya jawab, ‘Nggak tahu Mbak.”
Kata Mbak Yus, dia sempat dengar curhatnya Ari (Istri Mas Andreas). Kata Mbak Ari mas Andreas sampai stres. Udah gitu, katanya Mas Andreas juga merasa, kalau kata-kata penjelasan Rina kok seperti bukan bahasa Rina.
“Karena saya ingat kalau kamu pernah pinjam rekaman saya untuk merekam pembicaraan dengan Eva di telpon, lalu saya katakan, “Oh itu kali Mbak Yus, waktu itu Rina memang pernah pinjam rekaman saya untuk merekam pembicaraan dengan Eva di telpon. Ya itu kali. Lalu apanya yang salah Tin?”
“Udahlah lah Mbak, nggak usah dibahas. Udah terlanjur. Udah lewat. Sekarang masalahnya sudah bukan itu lagi!” Itulah salah satu petikan dialog saya dan Rina Erayanti.
Jadi, kalau saya lihat-lihat lagi, masalah system keuangan ini membuat Mbak Linda curiga lantas menuduh saya mata-mata.
Peristiwa ini terus terang membuat saya kaget. Apalagi tuduhan tak berdasar itu dilakukan oleh seorang Linda Christanty, yang notabene saya kenal sebagai wartawan.
Ketika Mbak Linda mengisi sesi di Pantau, pada kelas yang terakhir, saya ingat betul kata-kata dia dan saya tertarik mengutipnya dalam notulensi, "Untuk apa jadi wartawan, kalau kerjanya hanya ngarang cerita".
Namun dengan tuduhan-tuduhan dia belakangan ini, saya ingin bertanya, kenapa ternyata dia melakukan kebalikan dari pernyataannya sendiri? Dia telah membuat tuduhan, fitnah, tanpa pernah verifikasi.
Saya jadi prihatin ...
Siti Nurrofiqoh
Pantau
Jl. Raya Kebayoran Lama No 18 CD
Jakarta Selatan 12220
Telp/Fax. 021 722-1031/021-7221055
Mobile. 081382460455
Website. www.pantau.or.id
No comments:
Post a Comment