30 July 2008

Tanggapan Buat Eva Danayanti



Untuk rekan-rekan Komunitas Pantau,

Membaca email Eva Danayanti, sebagai salah seorang teman kerja dalam satu ruangan Eva di kantor Pantau, aku merasa perlu menanggapi. Aku melihat ada kecenderungan Eva, yaitu (maaf) suka memelintir fakta.

Aku mau bercerita sedikit saja soal kejadian sore itu ketika Eva mundur dari Pantau. Dia mengatakan padaku bahwa hari itu adalah hari terakhirnya di kantor Pantau. Sebagai teman, aku meminta maaf jika ada kesalahan. Artinya untuk saling memaafkan dan aku berkata agar ia bisa menemukan hal yang lebih baik di masa mendatang. Tapi, dia malah mengatakan padaku, agar aku jangan feodal setiap memandang orang. Karena orang itu belum tentu selalu seperti apa yang kita pikirkan.

Aku tidak mengerti dengan perkataan itu. Lalu aku tanyakan ke dia apa maksud perkataannya? Tapi dia tidak mau menanggapi. Aku juga mengatakan, kalau ada yang salah dari pernyataanku, aku mempersilahkan Eva untuk mengoreksi bagian mana saja yang salah.

Aku juga katakan bahwa Eva bisa membuat bantahan, baik di rapat board atau melalui email. Yang kumaksud adalah tulisan yang kukirim beberapa waktu sebelumnya, lewat email, yang di dalamnya, selain menanggapi sikap ngawurnya Mbak Linda, di sana juga kusinggung sedikit soal Eva yang memang ada kaitannya (terlampir). Tapi Eva tidak mau menanggapi dan mengatakan, ”Sudah lah mbak. Pesanku hati-hati aja. Mbak Fiqoh harus hati-hati.”

Memang, sejak Andreas melakukan pembenahan sistem keuangan di Pantau, sejak Rina Erayanti mendapat Surat Peringatan Satu (SP I), aku dituduh oleh Mbak Linda sebagai provokator dan mata-matanya Andreas. Padahal, apa hubungannya pembenahahan sistem keuangan (soal data dan angka) dengan provokator? Atas tuduhan ini, saya memberikan jawabannya (terlampir).

Eva menitipkan Dayu dan Rina, agar aku tidak sembarangan sama mereka. Lalu kukatakan, bahwa setiap orang, akan menentukan nasibnya sendiri. Dalam hati aku berkata, Hm...tuduhan lagi, prasangka lagi. Ini untuk kesekian kali kuterima, sejak Andreas membenahi sistem keuangan. Dan lagi-lagi, kubiarkan.

Sebelum masalah ini timbul, dia juga sering melakukan hal-hal yang meskipun ini seperti masalah kecil, namun mengganggu. Misalnya saja, di sebuah rapat Pantau yang dipimpin oleh Andreas Harsono, Eva tiba-tiba memindahkan aku yang sebelumnya mengurusi "Kursus Narasi", dipindah untuk mengurusi "Kursus Jurnalisme Sastrawi", bertukar dengan Dyah Ayu Pratiwi.

Itu tak masalah. Tapi, yang jadi masalah adalah, ketika Andreas tanya alasannya padaku, Eva langsung menyahut dan mengatakan kepada Andreas kalau aku “bosan” mengurus kursus tersebut. Eva berbohong. Aku tak pernah mengatakan bosan. Namun saat itu aku diam. Aku tak ingin mempermalukan Eva, dan tak mau meributkan hal-hal kecil begitu.

Masih menyangkut bohong, aku juga terkejut ketika, belakangan mengetahui struk tagihan listrik dari Strategi, pemilik gedung dimana kami bekerja, yang nilai setiap bulannya tidak sampai Rp 4 juta. Padahal di rapat, Eva mengatakan lebih dari dua kali bahwa Pantau membayar listrik ke Strategi Rp 4 juta setiap bulannya.

Nuansa like and dislike juga kental mewarnai kondisi dan kebijakan kerja di Pantau di bawah wewenang Eva.

Satu, soal asuransi. Aku (Staf program) dan Khoiruddien (Bagian umum), tidak diikutkan asuransi, meski kami sudah bekerja selama hampir tiga tahun. Sementara, yang lain maupun staf lain yang baru masuk kerja kurang dari tiga bulan langsung dimasukkan program asuransi yang nilainya Rp1 juta-Rp 3,5 juta per orang per tahun.

Kedua, soal honor. Melalui pembenahan sistem keuangan, belakangan baru kuketahui juga bahwa ada sesama staf program, yang belum satu tahun bekerja, gajinya lebih tinggi dari aku. Tanggungjawab kerja kami sama. Beban kerja sama. Entah kenapa gajinya lebih tinggi dari gaji aku?

Selain itu, entah alasan apa, Eva selalu membuat kebijakan berubah-ubah. Contohnya, awalnya aku disuruh promo “Kursus Jurnalisme Sastrawi”. Ketika sudah ada beberapa peserta mendaftar, Dayu yang disuruh melanjutkan.

"Kursus Jurnlisme Sastrawi" tersebut kurang sukses, hanya sepuluh yang membayar, satu orang barter iklan, satu orang mendapat beasiswa dari Total, dan beasiswa empat orang ditanggung oleh Pantau.

Secara kebetulan, quota “Kursus Narasi” yang aku pegang, melebihi quota dan sebagian masuk dalam waiting list sebagai peserta angkatan berikutnya. Di rapat, aku kembali dipindahkan mengurusi "Kursus Jurnalisme Sastrawi" dan mengatakan kepada Andreas, yang memimpin rapat, kalau aku bosan.

Ketiga, pernah aku minta bantuan Mas Udin untuk mensupport kegiatan-kegiatan Pantau. Ketika aku mau meminta tolong Mas Udin untuk melaundry taplak-taplak di Pantau, untuk keperluan kursus, membeli kardus-kardus untuk persiapan pameran di DPR, mengeprint-kan sertifikat di luar Pantau, Eva mengatakan padaku, "Mbak Fiqoh bisa lakukan sendiri, Mas Udin itu sifatnya hanya membantu."

Membantu siapa? Kok aku tidak boleh minta bantuannya?

Tapi Eva sering minta tolong Mas Udin untuk kepentingan pribadi seperti melaundry pakaian-pakaiannya, mengantar barang-barangnya ke terminal setiap mau pulang ke Lampung atau ke dokter pada jam kerja. Pernah pula ada seorang staf, Yusrianti Pontodjaf, minta diantar Mas Udin ke dokter, Eva marah.

Keempat, rapat di luar rapat. Sekarang aku merasa perlu sedikit mengungkapkan. Seringkali Eva menganulir atau mengubah-ubah apa yang telah diputuskan di rapat bersama setiap hari Rabu.

Ketika aku diminta oleh Andreas ikut mengurusi workshop pertambangan yang direncanakan di Surabaya bersama Joseph Stiglistz, Eva tidak mau menerima keputusan itu. Dia mengatakan, “Emang Mbak Fiqoh bisa? Nggak mungikn. Ini nggak mungkin. Kalau emang iya, aku akan ngomong sama Mas Andreas.” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Tetapi Andreas tetap minta aku mengurus itu.

Andreas meminta aku membuat list undangan yang terdiri para pemimpin redaksi dari berbagai media. Aku dihambat Eva, yang saat itu sedang berada di Aceh. Kata Eva, aku harus menunggu dia pulang ke Jakarta. Ketika kusampaikan bahwa aku diminta segera memunculkan nama-nama calon peserta oelh Andreas, dia menyuruh aku mengabaikannya. Katanya, Andreas memang begitu. Nggak usah selalu diikuti.

Aku juga tidak boleh menghubungi beberapa nama yang ada dalam list, misalnya Metta Dharmasaputra (Tempo), Heru Hendratmoko (68H), Agapitus Batbual (Merauke) dan lainnya. Kata Eva, “Mbak Fiqoh tahu tidak siapa mereka.” Waktu itu dalam hatiku berkata, aku bisa hubungi siapapun, memang apa larangannya sesama manusia untuk saling berkomunikasi?

Kelima, soal ribut-ribut penolakan terhadap rencana board menaikkan honor Andreas. Aku kurang tahu persis duduk perkaranya ketika itu, tetapi mereka ribut soal persetujuan board. Mereka keberatan Andreas dibayar lebih tinggi. Aku dipanggil oleh Rina Erayanti (Bagian Keuangan). Dia mengeluarkan pernyataan kalau honor Andreas tidak bisa naik “Demi Mas Udin dan Mbak Fiqoh”. Apa iya? Benarkah demi aku dan Mas Udin mereka keberatan dengan keputusan board menaikkan gaji Andreas? Padahal, Andreas baru dapat gaji dari Pantau 2007.

Belakangan aku baru tahu kalau Eva ternyata menaikkan gajinya sendiri tanpa sepengetahuan Andreas maupun board. Gajinya sudah naik duluan. Aneh.

Ini sedikit saja. Maaf, kalau membuat teman-teman terganggu dengan ini. Aku sebenarnya tidak mau mengungkapkan urusan internal Pantau ke luar. Ini sedikit saja, aku membatasi diri dan tidak akan mengurusi soal kebiasaan mereka bergosip, takutnya akan memperluas wilayah konflik. Karena menyangkut banyak nama di dalamnya. Dan aku juga sering ketawa dalam hati, “Kok bisa ya...? Orang yang biasanya di belakang saling mencerca, tiba-tiba jadi saling kompak.” Kok bisa juga ya, jika di depan baik-baik, tapi di belakang berbeda. Saling ngrasani.

Tapi, aku banyak mengambil pelajaran dari sini, bahwa orang yang bisa bersikap baik begitu ekstrim di depan kita, ternyata di belakang juga bisa bersikap ekstrim untuk kebalikannya. Kayak di sinetron. Mungkin, inilah kehidupan. Aku jadi ingat kata-kata Pak Goenawan Mohamad, berhubungan dengan manusia memang selalu problematis.


Siti Nurrofiqoh
Pantau
Jl. Raya Kebayoran Lama No 18 CD
Jakarta Selatan 12220
Telp/Fax. 021 722-1031/021-7221055
Website. www.pantau.or.id

No comments: